ArgaCa

ArgaCa

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 16, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Oke tenang Arga , semuanya pasti dapat di lewati. Amarah cowok itu telah di ubun-ubun, ia bahkan menghela nafas berkali-kali mencoba meredam amarahnya. Oke, lo nggak apa-apa marah asal, ngak boleh gampar nih cewek, Arga terus mengumamkan kalimat itu dalam hati. Ia telah muak dengan gadis di hadapannya ini. Cantik, jika gadis itu tidak banyak bertingkah. Sekarang lihat lah keadaan seragam Arga, penuh dengan air kotor bekas kain pel. Bahkan rambutnya juga terkena air kotor itu. Kita mulai reka adegan awal, hari ini Arga sedang berjalan menuju kelasnya dengan perasaan tenang dan damai tapi tiba-tiba perasaan nya buyar oleh salah seorang gadis yang dengan bodohnya membuang air kotor tepat saat Arga melewatinya. "Ma...maaf...maaf, Caca ngak sengaja sumpah, nggak sengaja. Caca ngak lihat" Caca, bahkan meraih tangan Arga utuk meminta maaf tapi dengan kasar Arga menepisnya. "Ngak sengaja lo bilang?! Ngak liat juga lo bilang?! Badan gue tingginya 178, berat badan gue 68 kilo, dan lo masih ngak liat gue?! Terus mata lo dipake buat apa?! Pajangan?! Yang bener aja dong!" Caca menunduk takut-takut. Ini kesalahannya, kalau saja tadi ia tidak melamunkan pelajaran KIMIA yang ia benci pasti gadis itu dapat focus dengan baik. Ia hanya menunduk, ketakutan dengan kemarahan cowok yang baru di temuinya ini.
All Rights Reserved
#171
pacar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Almost Us
  • Sailing With You [END]
  • BarraKilla
  • Can I See You're Heart?
  • Friendship In Love
  • Arsyilazka
  • The Secret Stalker
  • ARGA [REVISI]
  • Gula - Gula

Kalau ada satu orang yang selalu bikin Aira kesal tiap pagi masuk kelas, jawabannya cuma satu: Arga, si tukang ejek, tukang senyum miring, tukang nyebelin-tapi entah kenapa, hatinya selalu deg-degan tiap cowok itu datang. Bagi Arga, ejekan itu caranya menjaga jarak dari rasa yang terlalu dalam. Karena sesungguhnya, Aira bukan sekadar teman sekolah biasa. Ia adalah gadis kecil bermata sedih yang pernah ia tolong saat jatuh di jalan berlumpur puluhan tahun lalu. Gadis kecil dengan seragam sekolah dan pita merah di rambutnya, yang tersenyum malu-malu dan bilang terima kasih... sebelum akhirnya berlarian ke arah keluarganya yang sepertinya akan pergi meninggalkan rumah. Arga ingat. Aira tidak. Saat mereka dipertemukan kembali di usia dewasa-di sekolah yang sama, di kelas yang sama-Aira sudah menjadi perempuan yang dingin, keras kepala, dan angkuh. Tapi bagi Arga, ia tetap anak kecil yang dulu pernah ia bantu, yang senyumnya pernah membuat hatinya hangat. Arga mengenali Aira,, Arga ingat jelas nama gadis kecil yang ditolongnya dulu dari nama di seragam sekolahnya. Aira kaisha eliana. Jadi Arga memilih satu cara untuk mendekat: ejekan. Setiap ledekan, setiap adu mulut kecil, adalah bentuk rindunya yang lama dipendam. Tapi Aira? Ia terlalu bangga untuk bertanya, dan terlalu tertutup untuk merasakan. Dan ketika cinta sudah hadir di hati Aira, mereka harus berpisah untuk selamanya. Arga hanya menerimanya meski hancur, hanya kata selamat. Lalu pergi. Dan tak pernah kembali. Mereka bukan siapa-siapa. Bukan sepasang kekasih. Bukan sahabat. Tapi pernah saling jatuh cinta diam-diam-dan itu cukup untuk dikenang seumur hidup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines