Untaian kata

Untaian kata

  • WpView
    Reads 2,684
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 25, 2018
-Mengapa kota hujan ini hanya bisa mempertemukan raga kita? Padahal rasaku juga butuh tempat. Tempat untuk bernaung, dan kuharap itu adalah kamu. Tepatnya hatimu, Tuan. Tuan, jika kamu membaca ini, kuharap kamu sudi untuk menjadikan hatimu sebagai dermaga atas kapal rasaku. Karena disini, bukan hanya kata yang kuuntai, namun juga rasa dan asa. Rasa sayang kepadamu, dan asa bahwa suatu waktu kita dapat menjadi kita yang sesungguhnya. Benar. Kita yang sesungguhnya, Tuan.
All Rights Reserved
#258
untaiankata
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • ALISHA (end)
  • Di Balik Layar [Completed]
  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • REIHANA [Completed]
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • Have a Nice Dream [Completed]
  • WAVER [Completed]
  • PETRICHOR [Lengkap]
  • CERPEN (END)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines