Pacarku Miss Presiden

Pacarku Miss Presiden

  • WpView
    LECTURAS 51
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, sep 25, 2017
Pertama kali aku melihatnya adalah saat dia tengah berdiri ditengah taman dibawah guyuran hujan malam, aku bisa melihat kalau ia tengah menangis karena kulihat bahunya bergetar walaupun dengan penerangan cahaya yang kurang dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempatku berdiri "Hei, kau bisa sakit kalo hujan-hujanan ditengah malam seperti ini" teriakku padanya dan seketika itu ia langsung menoleh kebelakang dimana suaraku berasal, satu hal yang kulihat bahwa dia gadis yang Cantik walau terlihat samar samar dan saat aku mulai berjalan untuk menghapirinya ia justru berlari menjauh dan spontan aku langsung mengejarnya. Bukan karena apa aku mengejarnya, hanya saja aku merasa khawatir kalo terjadi apa-apa dengannya karena ini sudah malam dan takut terjadi hal yang tak diinginkan, namun aku sudah terlajur kehilangan jejaknya. Walaupun tadi aku sudah mengelilingi taman ini dan aku memutuskan untuk kembali menuju mobilku, yang terparkir tak jauh dari tempatku berada dan berfikir positif kalo gadis cantik tadi sudah pulang kerumahnya yang mungkin rumahnya tak jauh dari sini. -
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Di Balik Kacamata [END]
  • PESAN TERAKHIR AYAH
  • Penjara suci
  • Narasi patah hati
  • Tokoh Utama
  • New Destiny
  • Sampai Saat Ini, Aku Masih Mengagumi Dirimu
  • Ceritaku
  • 𝐑𝐀𝐍𝐄𝐒𝐇
  • Dibalik Tawa

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido