"Maaf, aku belum pernah bertemu dengan makhluk luar Bumi, dan aku pikir makhluk-makhluk itu tidak ada" jawab San akhirnya dengan tawa yang masih juga belum mereda, yang lain hanya ikut tertawa mendengar celotehan San.
Ya, itu terdengar sangat jelas. Dia menghinaku, menghina Bumia, begitu beraninya dia memutuskan bahwa makhluk di luar Bumi itu tidak ada. Aku sangat geram dengan tawanya itu, kuberanikan berjalan mendekati sisi terang tersebut.
Kemudian, tanpa pikir panjang lagi. Kuberlari menuju makhluk itu, menjambak-jambak rambutnya seperti saat kuberkelahi dengan peri di Bumia dulu, kutarik-tarik dasi yang menggantung di lehernya sehingga dia terlihat kesusahan bernapas karena tercekik olehku. Namun ketika kuperhatikan makhluk itu dari dekat, ternyata dia makhluk yang ada di cover majalah yang pernah kubaca waktu itu.
Orang bilang, manusia berkembang karena adanya konflik. Tapi jika begitu adanya, maka aku lebih memilih untuk tak berkembang saja daripada harus masuk ke dalam sebuah masalah.
Meski begitu, takdir Tuhan tak pernah bisa dihindari.
Aku terkena masalah. Walau pun aku tak melakukan apapun, aku terkena masalah, baik itu yang didatangkan olehku sendiri, ataupun yang didatangkan oleh orang lain, terutama yang didatangkan 'gadis itu'. Arrgghhhhhhh, sialan!
Benda yang hilang tanpa sebab.
Sebuah tulisan tiba-tiba muncul di dinding.
Buku yang bisa menulis sendiri.
Penampakan makhluk tanpa kepala.
Dan lain sebagainya.
Ini adalah kisah misteri konyol yang tak akan pernah selesai.