Diary
  • WpView
    Reads 191
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing7m
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 11, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
Dahulu kala hidup hanyalah seperti ini saja ; lahir, jadilah bayi, anak kecil, masih kecil, remaja(yang masih kuanggap anak kecil), cukup dewasa, akhirnya dewasa, lebih dewasa, dan akhirnya mati. Sebuah siklus yang tidak lagi asing di telinga. Namun adakalanya siklus itu terhenti di tengah jalan, bahkan berhenti di awal perjalanan. Berhenti, terpaksa kalah akan takdir semesta, ringkuk terhadap catatan tuhan. Ya itu tidak papa. Pada akhirnya kita hanyalah semut kecil dihadapannya. Hidup berarti pilihan (pilihan apapun itu. Tapi kalau saya akan memilih pilihan yang bagus-bagus). Tapi apakah menurut kalian sebuah kelahiran adalah suatu pilihan? Pilihan yang mendasarimu menjadi seperti sekarang. Apakah kelahiranmu adalah keinginan orang tuamu? Tapi apakah kelahiranmu itu adalah suatu yang murni keinginanmu? Saat itu tentu saja kau tidak dapat memilih ingin menjadi seperti apa saat kau lahir, Toh pada saat itu kau hanyalah benih hina ayahmu yang berenang-renang disebuah saluran yang bahkan kau tau adalah saluran yang juga berfungsi sebagai pengeluaran kotoran.
All Rights Reserved
#602
harian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Woman Who Called Mother
  • Lelaki Itu Takdirku
  • This Breath Isn't Mine Anymore
  • Surat Tak Bernama
  • Unforgettable Love
  • The Lonely Millionaire Volume 1
  • 𝐑𝐚𝐡𝐬𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐑𝐚𝐲𝐪𝐚𝐥 ∆ 𝐂
  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama

Jika doa ibumu tak kunjung dikabul. Maka salahkan saja Tuhan. Karena ia mengingkari janjinya untuk mengabulkan, segala doa yang ibumu panjatkan. * Dalam ketidaktahuan. Setiap pertanyaan tak punya jawaban. Dalam ketidaktahuan. Yang terbaik belum tentu sempurna. * Sejauh kaki melangkah. Aku tak pernah melihatmu berdiri di sana. Sehitam cat tembok rumah. Kau tak pernah ingin merubahnya. Sebiru laut, seluas langit, adakah ruang kosong di dalam hatimu, Bunda? * Dalam kantong keserakahan aku memohon. Sebening air matamu. Seluas pengampunanmu. Aku minta maaf.

More details
WpActionLinkContent Guidelines