We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
A Couple of Wings

A Couple of Wings

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 16, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Aku tak ingin melihat sendu di wajahmu, Kanaya. Bukankah kita diciptakan berpasang-pasangan? .... Hening sesaat. Keduanya saling menatap. Kanaya tertegun. Ia tak mampu mengucap sepatah katapun. Hari ini di depan bandara, Kanaya akan melangkah jauh. Dan mungkin, tak akan pernah kembali. "Kanaya, katakan padaku, bagaimana kupu-kupu bisa terbang tanpa satu sayap?" Namun, Kanaya tetap diam. Ia melepas genggaman tangan lelaki yang amat dicintainya. "Kanaya, bukankah kita diciptakan berpasang-pasangan? Tak bisakah kau membatalkan niatmu dan pergi denganku?" Kanaya bergeming. Ia tampak gusar. Suara peringatan dari pramugari tampak jelas di telinganya. Tak ada waktu lagi. Kanaya harus memutuskan sekarang juga. ____ Ainhy Edelweiss, seorang penulis amatir yang bercita-cita bertemu Andrea Hirata lewat tulisannya. Setiap sayap yang jatuh di atas kanvas putih menunggu untuk di poles. Bukankah tak ada yang sia-sia di bumi ini? Selamat menikmati tulisan ini. :)
All Rights Reserved
#437
generalfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • Semu [Completed]
  • My Little Monster - Completed
  • Romansa Imaginer ✔ (SUDAH TERBIT)
  • CINTA YANG NYATA
  • Reborn (Mari Bersua)
  • RAGARA [ on going ]

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines