Monolog Sebongkah Hati yang Patah

Monolog Sebongkah Hati yang Patah

  • WpView
    reads 94
  • WpVote
    Stemmen 5
  • WpPart
    Delen 1
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd don, jul. 13, 2017
WpInfo
Fictie
Romantiek
Wanita itu menjahit kelopak mataku dengan sangat rapi. Benar-benar rapi. Nyaris tak ada setitik darah pun yang jatuh menyusuri lereng pipiku yang terjal dan basah. Meski agak perih, tetapi aku menikmati setiap tusukan jarum serta lilitan benang yang kini hampir membuat mata sebelah kananku tertutup rapat. Benar-benar rapat. Nyonya Kedasih menjahit kelopak mataku dengan sangat hati-hati. Telaten. Kini aku hanya melihat warna hitam pekat sejauh mata memandang. Tetapi, ini belum rangkum selesai. Setelah ini aku akan meminta Nyonya Kedasih untuk menjahit hatiku yang telah patah. Atau sobek. Terkoyak-koyak sehingga tak lagi memiliki wujud. Entah ia mampu atau tidak, aku tak peduli. Pokoknya ia harus menjahit hatiku bagaimanapun caranya. . . Cover by: Dins
Alle rechten voorbehouden
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • My Little Monster - Completed
  • WISHES.
  • MANDA'S WEIRDNESS
  • Legendaris Mate
  • BROKEN HEART [END]
  • MY HOPE IS YOU (END)
  • FATE
  • Yang Pernah Patah
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • R E T A K  (TAMAT-SUDAH TERBIT)

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen