
Entahlah, heningku tertegun menyaksikan kegundahan malam, tak mungkin ku membenci malam yang sejatinya tidak akan sirna seiring zaman, kecuali jika zaman berakhir, entahlah, lidahku berkelu lagi. Kita menutup suara entah untuk menutup rasa atau menutup perdebatan, ataukah mencoba menguji rasa. Lama ku bersandiwara mengumbar tawa ditulang pipiku, memendam risau walau suaraku terkadang sampai parau. Menelan perseteruan hati, mengalir ke denyut nadiku sampai bom waktu pun berdentum keras memilih membungkam lara, menutup suara, tak ingin jadi perkara namun memilih beranjak saja. Hatiku tak berbanding lurus dengan logikaku. Kumemilih tuk mengangkat kaki, membuang semua memori dengan keteguhan hati semua akan mati, lagi ku keliru lagi, bertemanku dgn banyak suara, gurau kiri kanan, bernainkan alam bernuansa kebahagiaan abadi tapi semua tetap terasa maya, hampa. Namun, hatiku mengeras tetap tak ingin berdansa ria membangun hubungan yang telah ku semayamkan, karena ku tau pasti semua akan tetap sama. Sama lelahnya ku berseteru panjang dengan jarak, bernegoisasi dengan waktu, bertengjar dengan anganku dan anganmu, yang disudut perdebatan aku terpojok dengan keadaan lagi yang menyeretku kekeadaan bermaya lagi. Lama ku bersahabat dengan jarak ruang dan waktu yang tak sama, lagi dan lagi sekarang merintih jenuh, memilih mengobati hati, mencintai Tuhan yang sejati akan memberikan teman hidup sepadan sampai mati, entah dengan pelabuhan yang berbeda atau kembali ke dermaga semula. Tuhan yang mengambil alih sebagai hakim sejati.Hak Cipta Terpelihara
1 bahagian