Kereta Kencan [TAMAT]

Kereta Kencan [TAMAT]

  • WpView
    Reads 911
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 4, 2026
Pertemuannya dengan orang asing membawanya pada seribusatu rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Arini-gadis polos nan cupu berubah menjadi kupu-kupu, ia masih menyukai cinta pertamanya namun disisi lain dia tengah memiliki kekasih Bima-lelaki ini menilai Arini berbeda, dia menyukai gadis itu dari caranya menggambarkan isi hati lewat buku harian kecilnya. Dan ini saatnya untuk mengungkapkan isi hati. Dari Kereta Kencan Bandung-Jogja, dalam sebuah cerita rahasia. (Inspired by Album of Hivi! and RAN ft. Yura Yunita-Melawan Dunia) Juli 2017©
All Rights Reserved
#272
baper
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines