A Cursed Red Dress

A Cursed Red Dress

  • WpView
    Reads 1,014
  • WpVote
    Votes 89
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 1, 2017
Gaun merah yang sangat indah dan elegant, merah seperti darah, berkilauan seperti berlian, mungkin setiap wanita yang menggunakan gaun ini akan terlihat seperti putri. Aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri. Aku akan membunuh siapapun yang berani macam-macam denganku sambil menggunakan gaun ini. Gaun ini tidak bisa digunakan oleh siapapun selain aku. Aku akan membuat gaun ini terkutuk. Karena dirimulah, aku menjadi seperti ini. ~American Style~ Copyright.2017 StefyFilia
Public Domain
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dedarah 「END」
  • MISTIS
  • Dera 2
  • Ruang Kematian [Sudah Terbit]
  • Silakan
  •  A Lady of Killer (TELAH TERBIT)
  • creepy pasta
  • CREEP!!! [COMPLETED]
  • Cerita anak Indigo
  •  The Exorcists. I Am Indigo! [END]

[15+] Aku dikutuk. Aku hanyalah seorang gadis penderita asma yang ingin menjalani hari-hari dengan tenang bersama ibu dan adik laki-lakiku. Aku tidak mau punya masalah dengan orang lain, aku cenderung menghindari mereka. Namun, saat aku bangun pagi itu. Semuanya berubah. Seseorang sudah mencari gara-gara padaku. Siapa orang yang sudah memberikan kutukan ini? Bagaimana bisa aku harus berurusan dengan makhluk mengerikan yang bisa mencekikku dengan rambut panjang tak terukur dan bisa mencabik-cabikku dengan kuku-kuku setajam gunting itu? Siapa pun dia, aku tidak akan memaafkannya. Dibantu Darma, pemuda bodoh si maniak kasus-kasus misterius, aku menyusuri bagaimana kutukan ini bisa sampai kepadaku. Aku dibuat tak percaya. Aku harus memindahkan kutukan ini pada orang lain dengan ritual yang aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Kutukan ini membuatku kehilangan hal paling berharga dalam hidupku. Aku frustrasi, aku ingin mati saja. Di titik terendah dalam hidupku, aku menemukan cara lain. Sayangnya, aku harus siap berkorban nyawa. Itu jauh lebih baik daripada hidup berlumuran darah sembari menunggu ajal tiba.

More details
WpActionLinkContent Guidelines