Rain-Carnation

Rain-Carnation

  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Tue, Jul 3, 2018
Untuk nafas yang masih berhembus dan untuk jantung yang masih berdetak didalam tubuhku, kata terima kasih juga masih tidak cukup untuknya. Sejak awal aku sudah tahu tidak akan bisa berhasil melalui semua ini tapi eonni merubah semua keputus-asaan menjadi sebuah harapan, harapan untuk terlahir kembali. Tapi hidup haruslah seimbang, tidak ada kata memberi tanpa ada kata menerima, tidak ada kesenangan tanpa ada kesedihan dan juga tidak ada hidup tanpa kematian. Semuanya ada harga yang harus dibayar untuk setiap tindakan dan keputusan. Lalu, harga apa yang harus aku bayar dengan terlahir kembali serta memiliki kehidupan yang baru?
All Rights Reserved
#391
tears
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • ALISHA (end)
  • FIZYA
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Golden Blossoms (End)
  • Love You Dangerously (completed☑)
  • I'm okay (END)
  • Let Me Love You Longer
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines