Sudah beberpa hari ini aku tak melihat wajahnya. Aku rindu wajahnya yang selalu mengoda imanku. Tempat biasa dia nongkrong juga tak pernah kulihat seminggu ini. Di jalan yang biasa yang kami lalui juga. Di sekolah juga tidak pernah melihatnya. Tapi kak Sesila bilang dia tak absen kok. Atau jangan-jangan karena kejadian itu dia benar-benar menghindariku. Hari ini sama dengan beberapa hari yang lalu. Wajahnya benar menghilang. Aku beranikan pulang dari jalan belakang. Sekalian mengecek apakah dia masih nongkrong di tempat biasa. Tapi nyatanya tidaka ada. Bahkan kantinnya sepi. Aku melenggok lemas. Tapi, pas jalan menurun, kulihat dia ada di depanku. Aku senang bercampur bingung. Dengan wajah datar kulewati dia dengan kak Melkhy. Jarak 2 meter di depannya ada kak Oriz. Saat aku hendak melewati kak Oriz. Tiba-tiba tangannya menahanku. Dia menangkap lenganku. Aku terkejut, dalam hitungan detik tangannya turun dan langsung menyatukan telapak tangannya denga telapak tanganku, serta menggenggamnya erat. "Dek aku suka sama kamu" bisiknya lembut di telingaku. Aku tertegun sejenak. Saat tersadar ku tarik tanganku. Dan aku melongo ke atas. Disana tatapan tak mengenakkan menyambutku. Rasa tak suka terpancar jelas terhias di wajahnya. Sedang kak Melkhy terkejut, sama sepertiku. Sedang kak Oriz ikutan menatap kak Bram. Dan aku pun langsung berlalu. Untung orang yang di depan kami tak menyaksikannya. Mungkin akan menjadi sasaran empuk gosip di sekolah. Aku melanjutkan langkahku dengan cepat. Aku tak peduli telah melewati anak sekolah yang menikmati perjalanannya. Aku tak bisa berpikir akan membuatnya merasa tidak senang. Bukan aku, tapi kak Oriz pelakunya. Kak Oriz pasti tahu alasanku tak senang ketika dia mengatakan semua itu. Yah, dia jelas tahu. Dan itu membuatnya berhenti menggodaku.
Mais detalhes