Tunas Api
  • WpView
    Reads 1,273
  • WpVote
    Votes 160
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 23, 2017
WpInfo
Fiction
Historical
Mereka tak tahu bagaimana Api kita tumbuh seperti Tunas yang dimana saja selalu tumbuh dan menyala. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan sekelompok Pandu Muda (Anggota Pramuka) yang Menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang mereka ingin buktikan. Dan bisa bisa saya katakan ini adalah karya pertama saya , semoga komentar dan saran kalian bisa membuat evaluasi bagi saya agar bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Semoga karya saya yang satu ini bisa menginspirasi dan bisa menghibur kalian khususnya para Pandu Muda agar selalu berkarya dan berprestasi dengan Pramuka. Salam saya Rizal saefulloh
All Rights Reserved
#77
scout
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • Mr. D [ Kisah Nyata KKN ]
  • Lazarus Chest
  • My World
  • RUMAH SINGGAH ✔️
  • Arfan & Syeira
  • Menanti Mentari
  • Strong Girl
  • Senja Termendung

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines