Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
Gara-Gara Gara

Gara-Gara Gara

  • WpView
    Membaca 112
  • WpVote
    Vote 13
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jul 24, 2018
WpInfo
Fiksi
Romansa
Ini lebih dari sekadar mimpi buruk. Ini juga tidak lebih baik daripada saat ayahnya mengetahui bahwa dia mendapatkan nilai tiga saat ulangan matematika. Kaili terus merapal doa sepanjang perjalanan menuju kelas yang sudah disebutkan Adelia. Dia berharap, cowok yang digosipkan kedua sahabatnya tadi hanya orang yang berbeda, bukan bagian dari masa suram yang sangat ingin ia lupakan. Perlahan, tubuhnya membungkuk dan mulai mengendap-endap ketika sampai di tempat yang ia tuju. Kepalanya mengintip keadaan kelas dari balik kaca jendela paling belakang. Belum sempat Kaili mengamati satu-persatu manusia yang ada di sana, dia lebih dulu dikagetkan oleh sosok jangkung yang tiba-tiba berdiri dan menggeliat. Kaili mendongak lalu matanya membulat seketika. Dari balik kaca jendela yang sedikit kotor itu, dia tetap bisa melihat dengan jelas iris biru yang kini balas menatapnya heran. Iris biru yang membuatnya yakin bahwa hidupnya yang normal akan berubah lagi. Meski isi pikirannya sudah pergi entah ke mana, tapi samar-samar Kaili masih bisa mendengar suara dari orang yang berdiri di balik kaca jendela. "Ternyata, jodoh gue sekolah di sini juga." Saat itu, Kaili kembali bertekad untuk bisa mengubur jantungnya sendiri.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#11
gara
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • SILENCED AT 302 [END]
  • KIARILHAM【END】
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • ALEAGAS [END]
  • DeKaNa (END)
  • Kutukan Tumbal

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan