Terjebak Hutang Budi

Terjebak Hutang Budi

  • WpView
    Reads 278,285
  • WpVote
    Votes 786
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jul 30, 2017
WpInfo
Non-Fiction
sss
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Keluarga Calon Istriku
  • SUSUK MENANTU PENGODA
  • Di perbudak pembully anakku
  • Para Ibu Ibu Komplek Genit
  • Ibu Pejabat di Balik Tirai
  • KESEPIAN BERSAMA BAPAK MERTUA
  • Adikku Anak Kandungku
  • Indah : Istri dan nafsu yang membara
  • Terperangkap Bapak Mertua
  • Berubahnya Istri ( wife ), tetap setia
  • (21+) Petaka Liburan: Istriku Terjebak Menjadi Pasangan Lelaki Lain
  • Cerita Kehidupan
  • Wanita Alim Terpaksa Menerima Benih Dukun Tua
  • Story Keluarga Jaka (Prekuel dari SDS)
  • Hotwife Ervin: Pelampiasan Seorang Istri
  • Kasih Sayang Penuh Gairah
  • Mamahku yang ternikmat
  • Tetangga Baru
  • Desa Tempat Percintaan Nyai Siti
  • Gelombang Gairah Pakde Mando dan Marni

Aku bernama Rizal yang berusia 27 tahun dan akan menikah dengan calon istriku bernama Nisa (25 Tahun), yang akan menceritakan tentang kejadian affair yang terjadi antaran rizal dan juga beberapa wanita dikeluarga nisa sebut saja Rahma : calon ibu mertuaku yang anggun dan cantik berusia 45 tahun Rima kakak pertama nisa yang berusia 30 tahun dan ajeng kakak kedua nisa yang berusia 27 tahun Sinar matahari sore menelusup melalui tirai renda di rumah keluarga Nisa, membiaskan bayang-bayang belang di atas lantai kayu yang mengilap. Aroma kapulaga dan kayu manis masih tertinggal di udara, sisa-sisa teh yang diseduh Rahma sebelumnya. Rizal duduk di sofa empuk ruang tamu, membolak-balik majalah yang sebenarnya tidak ia baca; pikirannya melayang entah ke mana. Tunangannya, Nisa, sedang pergi keluar untuk urusan mendesak, meninggalkannya sendirian bersama keluarga perempuan itu-sebuah situasi yang kian hari kian sarat dengan ketegangan. Rahma, ibu Nisa, melangkah anggun melintasi ruangan. Rok panjangnya yang menjuntai menyapu lantai di setiap langkah. Hari ini ia mengenakan hijab berwarna hijau zamrud tua; kainnya tersampir longgar di bahu, memperlihatkan lekukan tulang selangkanya yang indah. Rizal memperhatikannya dari sudut mata. Jantungnya berpacu saat melihat Rahma membungkuk sedikit untuk merapikan vas di meja kopi-gerakan yang membuat hijabnya tersingkap, cukup untuk memperlihatkan gundukan dadanya di balik blus yang dikenakan. Rizal menelan ludah dengan susah payah, merasakan desakan yang menegang di balik celananya. Ini salah. Benar-benar salah. Namun, pemikiran itu justru membuat api hasratnya kian berkobar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines