My Possessive Werewolf Mate

My Possessive Werewolf Mate

  • WpView
    Reads 980,864
  • WpVote
    Votes 36,986
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 18, 2014
WpInfo
Fiction
Paranormal
Saat aku hendak membuka pintu lokerku, tiba-tiba sebuah lengan besar dan kokoh membalikkan pinggangku dengan paksa dan membantingnya ke pintu loker. Tidak sakit, namun dapat menarik perhatian murid-murid disini. "Ap-apa yang kau inginkan??" Tanyaku gugup tidak berani menatap wajahnya. Aku baru menyadari bahwa tubuhnya sangat berotot. Lebih besar dari ayahku. Mungkin 5x lebih besar dari tubuh kecilku. Aku yakin kedua tangan yang meremas pinggangku bisa meremukkan tulangku hanya dengan sekali remasan. Dia menggeram, "Abby," namaku terasa sangat cocok dan sempurna dilidahnya. Caranya menyebut namaku membuatku menggigil. Entah mengapa aku merasa takut sekaligus merasa aman. Matanya menggelap penuh dengan emosi:; nafsu dan.... Cinta?? Bagaimana bisa?? Lamunanku buyar ketika dia mulai mendekatkan wajahnya kearahku. Rasa ingin menangis segera mendatangiku. Satu bulir air mata mengalir dari sudut mataku. Aku memang sangat mendrama. Tiba-tiba matanya tidak lagi gelap. Tetapi bewarna abu-abu terang yang didalamnya terdapat keterkejutan melihat air mataku. Aku memeluk tubuh besarnya dan menyandarkan kepalaku didadanya. Membiarkan semua air mataku keluar. Kini aku merasa aman.
All Rights Reserved
#1
wayne
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI ANTARA DUA KEHIDUPAN (END)
  • NAYANA (Complete)
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Sweet Combat
  • Take A Break
  • [COMPLETED] 7 Days
  • Felicity [On Going]

"Anak hebat Ayah, kalau sudah besar mau jadi apa?" Suara itu masih terngiang di kepala Syela, lembut dan penuh kasih sayang. Malam itu, ia masih berusia enam tahun, duduk di pangkuan ayahnya yang selalu wangi dengan aroma buku dan kopi. "Dokter, Ayah. Supaya Syela bisa menyembuhkan orang-orang dan membantu banyak orang," jawabnya dengan penuh semangat. Ayahnya tertawa kecil, mengusap kepalanya dengan penuh kebanggaan. "Syela janji ya, suatu hari nanti akan jadi dokter hebat? Ayah janji akan selalu menuntun langkah Syela sampai impian itu terwujud." "Iya, Ayah! Syela janji! Terima kasih, Ayah. Syela sayang Ayah, sampai kapanpun." Janji itu terdengar begitu nyata, seolah hanya terjadi kemarin. Tapi kini, bertahun-tahun setelahnya, Syela hanya bisa menatap kosong ke langit-langit kamar. Ayah tidak lagi di sini. Janji itu, yang dulu terdengar seperti kepastian, kini hanya tinggal kenangan yang menggantung di dara. Syela menarik napas panjang, meremas ujung selimutnya. Sudah bertahun-tahun sejak ia kehilangan sosok yang paling ia cintai. Tapi luka itu tak pernah benar-benar sembuh. "Mana janji Ayah yang akan menuntun langkah Syela?" baca selengkap nya ya! @ssabrinena @syelas.story

More details
WpActionLinkContent Guidelines