Story cover for Bitter Brew by Levineghfry
Bitter Brew
  • WpView
    Reads 231
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 231
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Jul 31, 2017
Bagi para pecinta kopi, meminum long black atau biasa disebut americano memang mempunyai sensasi tersendiri terlepas dari rasa super pahit yang dimilikinya. Bagi Alana Ratu Shaletta yang selalu memesan hot chocolate di kedai kopi, ia tidak pernah menemukan jawaban mengapa ada orang yang menyukai minuman pahit tersebut. 
Namun setelah alasan untuk menyebut hidupnya sempurna satu persatu hilang, Alana akhirnya mengerti apa yang dirasakan orang-orang tersebut. Menikmati secangkir long black tidak ada apa-apanya dibanding menjalankan hidupnya yang jauh lebih pahit. 
Maka dari itu, ia ingin menemukan alasan lain dibalik pikiran mereka yang menjadikan americano sebagai minuman favoritnya; mempunyai hidup yang jauh lebih manis sehingga minuman itu sama sekali tidak terasa pahit di lidah.
Copyright © 2017 by Levineghfry.
All Rights Reserved
Sign up to add Bitter Brew to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
PAS NGOPI by Amali612
7 parts Ongoing
PAS NGOPI Di sudut kampung yang sunyi, di bawah rindangnya pohon jati tua, berdiri sebuah warung kopi sederhana. Atapnya dari anyaman daun kelapa, dindingnya bilah-bilah bambu yang sudah menguning dimakan usia. Di dalamnya, meja-meja kayu kasar dan bangku panjang yang sudah licin karena sering dipakai. Warung itu bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang berkumpulnya para petani, tukang becak, dan nelayan setelah seharian bekerja. Mereka duduk melingkar, menyeruput kopi hitam pekat dari cangkir-cangkir tanah liat, sambil berbagi cerita tentang hidup, tentang tanah, tentang laut. Kopi yang disajikan bukanlah kopi impor yang mahal, melainkan kopi tubruk asli, digiling manual, diseduh dengan air mendidih dalam teko besar. Aromanya menusuk hidung, rasanya pahit tapi membangkitkan semangat. Di warung itu, kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan, kejujuran, dan kesederhanaan. Di sana, filsafat hidup mengalir begitu saja, dari mulut ke mulut, dari hati ke hati. Namun, zaman bergulir. Warung-warung kopi tradisional perlahan mulai berubah. Di kota-kota besar, muncul kedai-kedai kopi modern dengan interior tempat berkumpul para petani atau nelayan. Ia menjadi ruang bagi anak-anak muda dengan laptop dan gadget canggih, sibuk dengan dunia maya. Percakapan tentang hidup dan alam berganti dengan obrolan tentang bisnis, politik, atau sekadar gosip selebriti. Kopi, yang dulu menjadi simbol kesederhanaan, kini menjelma menjadi gaya hidup. Harganya pun melambung, seolah menjadi penanda status sosial..
You may also like
Slide 1 of 9
Beneath the Quiet Horizon cover
Coffee Break Time cover
Cafein Love | JAKE enhypen [ END ] cover
PAS NGOPI cover
CHOCOLATE OR COFFEE ( END ) cover
Secangkir Kopi Sebelum Pulang || END cover
Flat White Coffee: Arisugawa Dice cover
Caramel Macchiato cover
Langkah Seiring (END+EXTRA PART) cover

Beneath the Quiet Horizon

31 parts Ongoing

Tak ada yang memperingatkan Aluna Maheswari bahwa sebuah desa kecil bisa menyimpan pria tampan penuh kharisma. Baru satu hari Aluna menginjakkan kaki di desa asal orang tuanya, yakni tempat tinggal kakek dan neneknya, Aluna sudah terjebak dalam pesona mas-mas jawa, kepala desa muda yang terlihat sederhana dengan kaos polos dan sandal jepit. Tapi auranya seperti seorang CEO start-up. Aluna yang datang hanya untuk rehat dari penatnya pekerjaan dan kota, tiba-tiba mendapati pikirannya penuh oleh sosok pria misterius itu. Di balik ketenangan desa dan senyum seorang Jatmiko Wijasena, ada cerita yang belum terungkap. Saat dua dunia bertemu, tawa, haru, dan cinta mulai menorehkan kisah yang tak mudah dilupakan.