May I Have Dreams?(On Going)

May I Have Dreams?(On Going)

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 28, 2017
Aku tidak bisa memulai semuanya dengan kata-kata. Saat ini aku begitu gila dengan problematika yang mengancamku. Tidak ada jalan lain. Aku ingin dunia luar tahu, betapa menyiksaku adalah pilihan terburuk. Aku makan dengan uang orang lain. Aku sekolah bergantung dengan pundi-pundi orang lain. Aku bermimpi pun bergantung dengan keputusan orang lain. Mengapa hidupku sangat terbatas? Kalian tahu, saat kalian mulai frustasi dengan kehidupan yang kalian anggap sebagai hidup menyakitkan, saat itulah aku berusaha bangkit dari perih. Tidak. Hidup kalian sangat beruntung. Cobalah dalami dan renungkan kisah-kisahku, saat itu kalian akan menemukan keberuntungan hidup kalian. Sungguh aku ingin menggugah hati kalian. Apakah mimpi itu harus berbayar uang? Jika demikian aku tak memiliki cukup uang. Apakah mimpi-mimpiku akan terampas begitu saja? Saat usiaku beranjak dewasa, aku mulai paham akan sebuah rasa. Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak cukup memiliki uang untuk membayar rasa cintanya. Apakah cinta juga berbayar? Tuhan, mereka bilang hidup tidak ada yang gratis. Lalu bagaimana denganku yang hanya mampu hidup dengan jagaan pemberian orang lain? Apa yang bisa kulakukan? Dia, seseorang yang kukagumi, memiliki segalanya. Dia mampu membayar rasaku. Tapi entah kenapa aku tidak merasakan jika hatiku sedang dibelinya dengan uang. Tidak. TIDAK SEMUA BISA DIBELI DENGAN UANG! TERMASUK MIMPIKU!
All Rights Reserved
#842
truestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Sekali Lagi (End)
  • Semu [Completed]
  • Hopeless
  • philopobhia
  • GRIZLEN {On Going}
  • My Diary
  • RAESHA (Revisi)
  • Love In Paris (COMPLETED)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines