Derai Derai Rindu

Derai Derai Rindu

  • WpView
    Reads 3,195
  • WpVote
    Votes 86
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 9, 2017
"Manusia hanya bisa menyemogakan, Allah lah Sang Pengabul permintaan. Aku percaya, namamu lah yang tertulis berdampingan dengan namaku di Lauhl Mahfudz." ~Ayyumna Kahisha~ "Aku ingin kamu menjadi hawa-ku, Ayyumna Kahisha. Tapi faktanya, tak semua kisah cinta yang saling bertepuk bisa berakhir bahagia." ~Adam Hilman~ "Kamu boleh meninggalkanku, jika aku bukan rumah yang membuatmu nyaman. Satu yang perlu kamu ingat, Aku akan selalu menunggumu pulang ke taman sakinah kita." ~Faiz Hammani~ Ayyumna Kahisha seorang gadis 18 tahun yang ingin mengejar impiannya untuk belajar di Istanbul University. Namun karena suatu alasan, ia harus membunuh mimpi-mimpinya. Pada akhirnya ia dihadapkan pada suatu pilihan. "Menikahi laki-laki yang ia cintai atau mencintai laki-laki yang ia nikahi". Yang manakah yang ia pilih? Temukan jawabannya di "Derai Derai Rindu"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • SEMESTA YANG KU CARI
  • Qalbu {Terbit}
  • ZA&RA
  • MAHABBAH [SELESAI]
  • Kahfi dan Yumna
  • [1] Mahabbah di Tepi Zuhur [Sudah Terbit]
  • Sahabat Until Jannah (SUDAH TERBIT)
  • SETULUS CINTA SANG MUALAF
  • Astaghfirullah, Fuckboy Husband! [END]

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines