Gema di Langit Tokyo [TERBIT]

Gema di Langit Tokyo [TERBIT]

  • WpView
    Reads 66,300
  • WpVote
    Votes 4,577
  • WpPart
    Parts 40
WpMetadataReadComplete Wed, Jun 26, 2019
WpInfo
Fiction
Social Themes
[TELAH TERBIT| Bisa dipesan di shopee: divtia] . . . Berawal dari aksi mengupingnya yang tertangkap basah, Fathaniah Athaya sangat menyesal sudah membuntuti Fujihara Hibiki memasuki Taman TODAI. Gadis berhijab yang mudah lupa itu, malah dengan mudahnya mengingat wajah serta cengiran Hibiki yang menyebalkan. Namun, siapa sangka jika Hibiki adalah obat penyembuh yang Allah gariskan untuknya? =================================== Ini hanyalah fiksi. Nama, setting tempat, serta segala hal dalam cerita ini adalah khayalan dalam benak si penulis. @bawelia Desain Cover by: Divtia & Sunggari #ODOCTheWWG
All Rights Reserved
#212
tokyo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Behind The Heart
  • Why Me? ( Seijuurou x Karma x Reader x Kei x Sougo ) [ ✔ ]
  • Wozry : The Green Fire Harph ✔ [REVISI]
  • Tears from a Strong Girl (TELAH TERBIT)
  • RSS[1]: Ketika Hati Berucap [Tamat]
  • The Perfect Boy ✔
  • Blitheful Balloons
  • M Y   B A D B O Y (Completed)
  • Jannah.

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines