POMPIN (Telah Terbit)

POMPIN (Telah Terbit)

  • WpView
    Reads 727
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 21, 2018
Judul : POMPIN Penulis : Fitria Rahma Penerbit : Loka Media Jumlah Halaman: 213 hlm Ukuran : 13 x 19 cm Terbit: Januari 2017 ISBN : 978-602-60255-4-8 "Aku menyerah. Aku nggak akan ikut lomba itu." Tini, siswi kelas 12 IPA 1 mulai meragukan impiannya menjadi fashion designer. Dia merasa tidak akan bisa meraih impiannya karena kemampuan menggambarnya yang minim. Dia hampir saja putus asa akan impiannya itu. Apakah Tini akan menyerah begitu saja dan membiarkan impiannya hanya menjadi bunga tidur?
All Rights Reserved
#55
designer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • The Lost Twin (First Version)
  • Choices
  • DAYANA
  • Chocolate Addict [COMPLETED]
  • Young, Dumb, Stupid
  • How to be Your Friend
  • SQUAD OF CAT
  • Sahabat Until Jannah (SUDAH TERBIT)

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines