Sulit
  • WpView
    Reads 672
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing2h 18m
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 14, 2017
WpInfo
Fiction
Social Themes
Disaat kebanyakan perempuan diluar sana yang di beri sedikit kata kata dan rayuan receh oleh laki laki langsung jatuh cinta, tidak dengan aku yang sangat sulit hatuh cinta . Buat ku jatuh cinta bukan hanya sekedar baper atau sekedar salah tingkah . Bagiku, cinta itu bagaimana seseorang yang bisa buat aku nyaman dan jatuh cinta berkali kali bukan hanya sekali dan timbul rasa bosan dan pengalihan rasa. "Kalau kita temenan lagi kamu akan marah ?" "Aku tidak akan pernah bisa marah padamu emil" "Silahkan marah, tapi aku minta jangan benci aku , boleh ? " "Boleh, apasih yang engga buat kamu , bahkan saat kamu meminta aku untuk pergi , aku akan menurutinya " "Maaf" "Kamu cantik, jangan sedih , nanti tambah cantik , nanti aku malah gabisa nurutin permintaan kamu " -sok baca Aku harap kalian suka guys
All Rights Reserved
#2
sulit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jangan Berpaling Dariku
  • Shinjitsu No Koi
  • Kasih Atmaja (C)
  • COMPLICATED [On Editing]
  • Naik Ranjang ᴺᵉʷ ᴱⁿᵈ
  • ᴘᴀᴘᴀ ꜱᴀɢᴀ ᴱⁿᵈ
  • Beautiful Player
  • Eyes Contact [Jefri Nichol]
  • Bumi

Berkahwin dengan lelaki yang dia cinta merupakan impian dalam hidup Aina. Bahagia... itu yang dia mahu bersama Benjamin. " Sampah apa yang kau bagi pada aku ni?" kasar suara Benjamin menyoal. Aina mengambil dokumen yang dilemparkan Benjamin di atas meja lalu dia membelek sekali lagi. Rasanya tiada kesilapan yang dia lakukan kerana dia telah menyemak berkali-kali sebelum menghantarnya kepada Benjamin. " Erk... ini kan dokumen yang Encik Benjamin suruh saya buat." Aina membalas perlahan. Dan dia rasa ingin menampar mulut sendiri kerana menjawab. " Ini bukan dokumen yang aku suruh kau buat tapi ini sampah! Benda macam ni patut masuk dalam tong sampah, bukan kat atas meja aku!" Benjamin membentak kuat. Namun hidupnya seakan tercampak ke dalam lembah kedukaan bila Benjamin sering menolaknya jauh dari sisi. Bertahan atau mengalah... apa yang harus dia lakukan? Dibenci suami sendiri, sanggupkah Aina bertahan di sisi Benjamin?

More details
WpActionLinkContent Guidelines