Titik.

Titik.

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 23, 2018
Aku tau aku salah jika memiliki rasa ini. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku menyayanginya. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Dia lelaki yang pertama kali menggenggam tanganku selain ayahku, yang pertama kali mengantar ku sampai depan ruang tamu, yang pertama kali membuatku tertawa d depan umum karena ulahnya, dan dia laki-laki kedua yang ada dihatiku, yang pertama adalah ayahku Bersamanya aku merasa aman dan nyaman dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat membuatku ingin lagi bersamanya. Namun ada hal yang memaksaku untuk menghilangkan rasa itu. Apakah aku mampu menghilangkannya ? Apakah dia memiliki rasa yang sama ?
All Rights Reserved
#207
cintapandanganpertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jatuh Hati Patah Lagi [ COMPLETED ]
  • A3 [AMEL AJI & ANUGERAH]✔
  • Friendzone | END |
  • Admire Or Love
  • SKALA (Reana) COMPLETED
  • ♚BEST FRIEND ZONE♚
  • Viko OR Vito
  • Complicated Friend Zone
  • Friendzone
  • ALFA [selesai]

Ragil selalu berkata, "Sampai kapan kau akan sadar, Delina? Dia tidak baik untukmu." Kalimat itu selalu diulang ketika aku mulai melakukan pendekatan dengan seorang pemuda yang aku incar. Aku adalah Delina yang sudah berulang kali jatuh hati dan patah lagi. Miris memang. Tetapi, aku cukup beruntung karena selama itu selalu ada Ragil -sosok sahabat lelakiku satu-satunya, yang tak pernah menyerah dalam mengingatkan seorang Delina si bengal satu ini. *** Di balik ikatan persahabatan kami, tak kusangka setiap menit dan detik yang kuhabiskan bersama Ragil mulai menumbuhkan rasa. Jangan bilang kalau rasa itu diawali dariku yang kerap mengalami patah hati. Tidak. Ragil yang lebih dulu jatuh hati kepada seorang Delina. Namun, tidak semudah itu kami mampu membalas perasaan satu sama lain. Mengungkapkannya saja, kami butuh keberanian dan pertimbangan lebih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines