R
  • WpView
    LECTURAS 18
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, ago 12, 2017
Ini cerita tentang gue dan sahabat gue. Awalnya gue sama dia itu sekelas, terusnya gue ga kenal sama dia. 1 tahun kemudiaan, gue sama dia sekelas lagi dan disitu gue udah mulai kenal namanya dan sifat & wataknya. 1 tahun berikutnya, gue sekelas lagi sama dia, dan akhirnya gue sama dia jadilah sahabat. Awalnya dulu ga kenal lama kelamaan jadi sekelas mulu berturut-turut dan akhirnya mulainya ada rasa suka satu sama lain. Hari ke hari mulainya muncul ada kecemburuan, awalnya gue cuman sepele tapi lama kelamaan tambah cemburu. Mulainya dia mengenal cewe lain yaitu adek kelasnya, dan dia putuskan untuk memilih cewe itu dibandingkan gue.... sakit ya... Inilah cerita gue dan sahabat gue.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Seventy Eight Pages ✔
  • Friendship Diary
  • Catatan Semut abu (Secercah Cerita Di jendela Kelas)
  • Sepotong Kue Coklat
  • Cinta Anak SMP
  • Tuhan Izinkan Aku Mencintainya
  • Diary  &  Cinta  Rahasia
  • You Are My Best Friend
  • Long Walk With You

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido