Story cover for Something Unstoppable by devimuliasarii
Something Unstoppable
  • WpView
    Reads 756
  • WpVote
    Votes 288
  • WpPart
    Parts 12
  • WpView
    Reads 756
  • WpVote
    Votes 288
  • WpPart
    Parts 12
Ongoing, First published Aug 13, 2017
Karena hati selalu ikhlas.
Apa benar semua yang didasari dengan hati itu tulus dan ikhlas?
Apa iya semua yang pakai hati itu menjunjukan keseriusannya?
Apa harus semuanya menggunakan hati?
Mungkin maksudnya jika kita memiliki hati untuk seseorang kita juga harus memiliki keikhlasan untuk apapun yang akan terjadi kedepannya.

Ketidakpastian yang membuat kita menunggu.
Apa memang semua penantian dibalas dengan ketidakpastian?
Apa harus ketidakpastian diberikan kepada seseorang yang sudah dengan susah payah menanti?
Kenapa harus selalu begitu?
Kalau memang ketidakpastian itu emang benar adanya,lantas untuk apa membiarkannya terus menunggu?
All Rights Reserved
Sign up to add Something Unstoppable to your library and receive updates
or
#331teenagers
Content Guidelines
You may also like
Surat Cinta untuk Diriku Sendiri by ceritadariawan28
6 parts Ongoing Mature
"Semelelahkan apapun hidup, tolong jangan mati di tangan sendiri." ______________________ "Aku nggak mau ngerasain mentalku kembali hancur berantakan hingga rasanya hampir mati hanya karena cinta. Itu sebabnya, aku selalu takut untuk jatuh hati lagi." Ya, Ditha Aquila selalu takut kembali dibuat terluka sampai tak sadar bahwa ia sudah jadi sumber luka bagi Juna Pradirga. Lihatlah pada kebodohan yang ia buat. Takut ditinggal pergi, tetapi menomorsatukan ego dan gengsi. Ingin diyakinkan, tetapi tak pernah memberi kepercayaan. Mengharapkan yang serius, tetapi memutuskan hidup dalam hubungan tanpa status. Lebih dari ketakutannya untuk kembali dilukai, Ditha percaya bahwa orang yang mentalnya tidak stabil memang tak pantas untuk dicintai. Sebab bagaimana mungkin ia mencintai raga yang lain saat dirinya sendiri masih seringkali ia sakiti? Biar aku bertanya, apa yang akan kau putuskan jika seseorang datang pada saat luka masa lalumu belum sepenuhnya hilang? Memilih menerimanya? Atau justru, menolak kehadirannya dengan dalih sakit hatimu yang belum pulih? Keduanya sama-sama berisiko. Namun, kita selalu bisa memilih, risiko mana yang akan kita ambil. "Cara paling mudah untuk mencintai diri sendiri adalah dengan berhenti sejenak mencintai orang lain." PERINGATAN ⚠ Cerita ini bertemakan mental health. Pada beberapa part mengandung konten sensitif seperti adegan kekerasan fisik, self harm, hopeless, trust issues, dan suicidal thoughts. Publish : 1/09/2021 - 25/12/2021 Revisi [ New version ] : 19/02/2023 - Rank : #2 in puisi [04/10/22] #3 in quotes [30/11/23] #1 toxic relationship [31/07/22] #1 trustissue [28/08/22] #1 loveyourself [09/08/2
You may also like
Slide 1 of 10
DALAM DETAK (SELESAI) cover
AYARA [END] cover
Seharusnya Kita Tidak Menyerah cover
Surat Cinta untuk Diriku Sendiri cover
The CHOICE cover
Hopeless cover
REGATHAN [END] cover
From The Eyes cover
Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah cover
The Wait is Over cover

DALAM DETAK (SELESAI)

7 parts Complete Mature

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017