The Star That Runaway From The Sky

The Star That Runaway From The Sky

  • WpView
    Reads 745
  • WpVote
    Votes 161
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 6, 2019
Bagaimana jika kamu mencintai yang ada di langit, sedangkan kamu di bumi hanyalah debu padang pasir?? ................ Kamu adalah lelaki misterius yang selalu datang dengan topi dan jaket bertudung berwarna hitam.. Tak pernah ku sadari bahwa kamu ternyata bukan orang biasa.. Kamu adalah bintang besar yang bersinar di langit.. Maukah bintang itu lari dari langit dan turun ke bumi meninggalkan gemerlap malam hanya untukku? Akankah itu terjadi? Dan mampukah kita menembus batas luas yang membentang di antara kita? Apa nanti nya sinarmu akan pudar hanya karena bersamaku? Bisa kah aku melihatmu berkorban begitu banyak hanya agar kita bersatu? Begitu banyak pertanyaan dalam hatiku Inilah kisahku dan kamu.. Memilihku untuk melepas semua atau memiliki semua kecuali aku, manakah yang akan kau pilih?
All Rights Reserved
#904
hujan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Memorable
  • Rasa Tanpa Kata
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Bulan [End]
  • Sebuah Rasa
  • My HOPE (SELESAI)
  • CATUR [END]
  • SELENOPHILIE [END]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines