Memories
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 14, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
bagaimana bisa kamu menjadi orang yang benar-benar ingin ku benci? sementara dulu. begitu dalam aku menjatuhkan hati dan sejuta perasaanku. hatiku menolak untuk pergi tetapi kenyataan terlalu menyakiti. tetapi tetap saja tidak bisa kulupakan sampai saat ini. ketahuilah perasaanku padamu akan terus seperti ini dan selalu begini "sempat kupikir inilah perpisahan terpahit yang pernah ada dalam hidupku" dan pernah membuat hatiku rapuh sehingga susah untuk bangkit kembali. tetapi, apakah kamu tidak pernah berpikir sejenak? betapa pedih luka yang mengiris dada, betapa hancur hati ini saat ditinggal pergi oleh dirimu dan sikapmu yang lama kelamaan dingin seperti orang asing? tidak mempunyai hati menyiksa malamku, menyesakkan hariku. *kenangan selalu pulang dengan hal hal yang kamu buang. dengan hal hal yang dulu sepenuh hati kita impikan dalam hal berjuang. andaikan mudah membencimu, aku sudah melakukannya semenjakk kamu memilih berlalu. lelah rasanya sprti ini, mengharapkanmu yang tak pernah peduli. menggenggam hati yang tak lagi bersedia dimiliki semoga waktu benar2 obat dari segala pilu :')
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • All of the stars [Bulan's]
  • The Past And The Future
  • SECOND LEAD
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • • EUTANASIA •
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • Backstreet
  • Si Pemilik Mata Indah

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines