Tama
  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Aug 15, 2017
Saat itu hujan deras sekali. Tapi kau bilang, "tidak apa, aku akan membawa payung." Lalu menutup sambungan setelah berkata, "tunggu aku di sana!" yang membuatku hanya bisa menghela nafas. Kau memang membawa payung, tapi tidak sampai ke tempatku. Kau berpaling ke tempat lain. Kau tersangkut. Aku khawatir, apalagi di sore yang gelap itu, hujan semakin lebat. Aku tak dapat menghubungimu. Kau pun tak mengabari atau segera tiba. Aku hanya menunggu di hadapan kepulan asap kopi di atas meja. Aku memandang langit, memohon untuk berhenti menangis dan segera bawa kau kemari. Tapi langit tak mendengarku. Ia terus saja menurunkan air yang menghalangiku untuk mencarimu. Aku berfikir hal buruk. Mungkin saja kau bahkan tak bisa mengucapkan selamat tinggal dulu, yang sebenarnya memang enggan kau ucapkan. Mungkin saja kau ditemui oleh makhluk Tuhan yang siapapun tak ingin bertemu dengannya. Mungkin saja saat ini bukan aku yang membutuhkanmu, melainkan kau yang membutuhkanku. Kekhawatiranku semakin memuncak, tak dapat menunggumu lebih lama. Aku sudah tak peduli dengan berkas penting yang baru kuambil dari sekolah. Yang kupikirkan hanyalah kau. Jadi aku berlari menembus hujan, mencari arah di sela gelap yang hanya diterangi kilat. Aku tak sempat membalas beribu senyummu tempo hari. Yang kulakukan hanyalah mengabaikanmu. Tapi kau keras kepala. Aku berlari lebih kencang, tak peduli bayanganku terinjak-injak dan mencipratkan air dari genangan di jalan sebagai balasannya. Yang kupikirkan hanyalah kau. Aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu sepanjang jalan. Aku ketakutan. Rasa sesal itu lebih perih dari jari yang tergores kertas. Aku berpikir dan berpikir, bahwa mungkin saja aku tak akan sempat meminta maaf, dan mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu.
All Rights Reserved
#269
sibling
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menyerah atau Bertahan?
  • MFS ✓
  • Harapan Bunga Terakhir
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • Abadinya Kisah Jerrom & Affa
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Aerilyn
  • KIARA [END]

Nggak semua keluarga bisa di sebut rumah. Terkadang, mereka lah luka pertama bagi seseorang. Orang-orang ingin hidup seperti dirinya, apakah sebagus itu topeng yang dia buat?? Ada tangis yang ditahan, ada amarah yang tak bisa di unggkapkan, ada luka yang harus di sembuhkan. Ini bukan cerita tentang mencari kebahagiaan, melainkan bagaimana cara bertahan saat dirinya sendiri ingin menyerah. Jika jalan hidup mu tidak di takdirkan untuk bahagia. Mungkin, kamu takdirkan untuk membahagiakan orang lain. Jangan hukum dirimu sendiri, atas apa yang mereka buat. "Apa aku nyerah aja?" Ucap gadis imut itu. "Menyerah?? Kamu hanya tidak bisa menyadari, bahwa kehadiran mu bisa menerangi kegelapan di hidup orang lain" Jawab pria tampan yang menatap wajah gadis itu penuh kasih sayang". Penasaran bagaimana kisahnya? Yuk baca sampai habis ceritanya^^

More details
WpActionLinkContent Guidelines