Bhanubia Nisaka

Bhanubia Nisaka

  • WpView
    Membaca 549
  • WpVote
    Vote 21
  • WpPart
    Bab 8
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Nov 28, 2017
Bia gadis berusia menjelang tiga puluhan. Dengan kepribadian unik kala cengirannya mulai muncul. Penyiar di salah satu TV lokal di Jogjakarta. Tentu hampir semua orang seantero Jogja, bahkan seisi Jawa Tengah mengenalnya sebagai presenter yang menyenangkan. Bia yang pelupanya tingkat dewa. Menyimpan beragam kenangan tentang ayah ibunya melalui koleksi lagu lawasnya. Dari sekian banyak orang yang datang dan pergi, selain kedua orang tuanya. Ada satu nama di masa dulu yang membuat dirinya, tak pernah kabur mengingatnya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#84
parent
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • KARAFERNELIA
  • Hey Jia!
  • B I L V A N
  • Gus Zayn : Langit Biru di Yogyakarta
  • Laskar Jingga
  • Sampai Kita Jadian - Love on Repeat
  • Become a Parent's [END]
  • KARINA

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan