Gue tau dari awal udah ada peringatan buat nggak deketin lo, lebih dari radius perkenalan. Tapi entah kenapa waktu itu, dengan masa-bodohnya gue mau tau; apa yang akan terjadi kalo gue deketin lo lebih dari radius yang di tentukan? Pertanyaan itu dengan mudah menciptakan suatu hal yang dinamakan, penasaran. Waktu itu, gue penasaran banget--apapun hal yang mengenai lo. Nggak usah tanya apa gue tau resiko apa yang bakal gue dapetin, jelas gue udah tau, bahkan sebelum gue memutuskan untuk melewati batas aman gue sendiri. Jadi menurut gue begini, semua usaha pasti ada hasilnya bukan? Dan lagi semua hasil 'kan tentu harus di pertanggungjawabkan. Gue udah memasuki zona dimana bisa dikatakan tempat bom nuklir bersarang. Resikonya sama. Pertama, saat gue memilih melarikan diri, bom itu udah melekat dalam diri gue. Kemanapun langkah yang gue ambil, bom itu akan tetap menempel bagai benalu. Dan yang kedua, bila gue memilih diam dalam sarang itu, gue bakal mati dengan cara yang mengenaskan. Ibaratnya begitu... Gue udah masuk dalam hidup lo, tapi belum tentu hati lo. Dan zona bom nuklir yang gue maksud itu adalah perasaan ini. Perasaan yang udah merasuk dan bersarang dalam hati gue. Gimanapun cara gue menghindar, sudah terlambat, karna rasa itu akan terus mengikuti kemanapun gue pergi. Sekarang gue tau, se-bahaya apa deketin lo lebih dari radius perkenalan. *** Don't judge, don't copy, and don't paste. You just need reading, and enjoy to it. Thanks. Tertanda penulis amatiran. LidyaAyuBazrinaAll Rights Reserved
1 part