ZONE
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 2, 2020
Gue tau dari awal udah ada peringatan buat nggak deketin lo, lebih dari radius perkenalan. Tapi entah kenapa waktu itu, dengan masa-bodohnya gue mau tau; apa yang akan terjadi kalo gue deketin lo lebih dari radius yang di tentukan? Pertanyaan itu dengan mudah menciptakan suatu hal yang dinamakan, penasaran. Waktu itu, gue penasaran banget--apapun hal yang mengenai lo. Nggak usah tanya apa gue tau resiko apa yang bakal gue dapetin, jelas gue udah tau, bahkan sebelum gue memutuskan untuk melewati batas aman gue sendiri. Jadi menurut gue begini, semua usaha pasti ada hasilnya bukan? Dan lagi semua hasil 'kan tentu harus di pertanggungjawabkan. Gue udah memasuki zona dimana bisa dikatakan tempat bom nuklir bersarang. Resikonya sama. Pertama, saat gue memilih melarikan diri, bom itu udah melekat dalam diri gue. Kemanapun langkah yang gue ambil, bom itu akan tetap menempel bagai benalu. Dan yang kedua, bila gue memilih diam dalam sarang itu, gue bakal mati dengan cara yang mengenaskan. Ibaratnya begitu... Gue udah masuk dalam hidup lo, tapi belum tentu hati lo. Dan zona bom nuklir yang gue maksud itu adalah perasaan ini. Perasaan yang udah merasuk dan bersarang dalam hati gue. Gimanapun cara gue menghindar, sudah terlambat, karna rasa itu akan terus mengikuti kemanapun gue pergi. Sekarang gue tau, se-bahaya apa deketin lo lebih dari radius perkenalan. *** Don't judge, don't copy, and don't paste. You just need reading, and enjoy to it. Thanks. Tertanda penulis amatiran. LidyaAyuBazrina
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Everything Happens for a Reason
  • TENTANG SEPASANG
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • ALVIN (On Going)
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • ORION [COMPLETED]
  • Rama Prananta (Sudah Terbit)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines