Dulu, aku datang dengan segenap rasa, menawarkan cinta yang tulus adanya. Tapi kau hanya tersenyum samar, dan menutup pintu tanpa berkata. Aku pergi dengan hati yang patah, belajar merelakan, belajar tabah. Kupikir, itulah akhir kisah, bahwa aku hanyalah bayang yang singgah. Namun takdir memang suka bercanda, mempertemukan kita sekali lagi, bukan sebagai aku yang mencintaimu, tapi sebagai aku yang membantumu berdiri. Di saat langkahmu terseok, di saat duniamu runtuh perlahan, akulah tangan yang kau genggam, tanpa kau pinta, tanpa kau duga. Dan perlahan, kulihat caramu menatapku berbeda, tidak lagi sekadar seorang yang pernah menyatakan padamu rasa sukanya, tapi seseorang yang kini menggetarkan hatimu, yang tanpa kau sadari telah mengisi ruang kosong di jiwamu. Kini kau yang meragu, bertanya apakah aku masih punya rasa, tapi aku hanya tersenyum, karena cinta sejati tak pernah meminta balasan. Mungkin aku pernah mencintaimu lebih dulu, tapi kini, biarkan takdir yang menentukan, apakah kau datang untuk menetap, atau hanya untuk merasakan apa yang dulu kau abaikan.
More details