Yang terlupakan

Yang terlupakan

  • WpView
    Reads 35,208
  • WpVote
    Votes 1,094
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 21, 2019
HIATUS "Senyumanmu menyadarkanku akan satu hal yang begitu sulit kuingat kembali" - Odelia Senja Winanditia "Kini angan itu benar-benar nyata didepan mata, membuka kembali harapan yang dulu pernah ku kunci rapat-rapat, dan kau datang bersama kunci yang tepat" - ARP Sebuah kisah tentang pertemuan panjang yang terlupakan. Lalu dipertemukan kembali tanpa satupun alasan. Mungkin Takdir yang mengizinkan mereka untuk kembali dipertemukan.
All Rights Reserved
#567
ceritaromantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kalau Aku Telpon, 'Dia' Marah Gak?
  • Silent Scars | Orine
  • FALLING IN LOVE
  • Cinta untuk Senja.
  • Regrets of Love
  • A Scratch For Sanguinis [Orine]
  • Tentang Lionel : Cerita dari Catherina

Awalnya, Oline hanya menjalankan permintaan Delynn-mengantar Erine pulang, menemani jika Delynn tak bisa, memastikan gadis itu baik-baik saja. "Tolong jagain Erine ya, gue lagi sibuk." Itu yang selalu Delynn katakan. Dan Oline, sebagai sahabat, selalu menurut. Tapi lama-kelamaan, semuanya berubah. Erine bukan sekadar tanggung jawab yang Delynn titipkan. Setiap keluhan tentang Delynn, setiap panggilan malam yang meminta Oline untuk mendengar, setiap tawa, setiap tatapan yang tak seharusnya berarti apa-apa-perlahan, semuanya mulai mengisi ruang kosong dalam hati Oline. Dia tahu Erine masih mencintai Delynn. Dia tahu dirinya hanya tempat persinggahan saat Delynn tak ada. Tapi semakin lama, semakin sulit baginya untuk mengabaikan kenyataan bahwa Erine selalu pulang padanya. Oline tak tahu sampai kapan dia bisa menahan perasaan ini. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya setiap kali Erine memilih meneleponnya daripada Delynn: Kalau Delynn tahu, dia akan marah nggak? Atau justru... dia memang tak pernah peduli?

More details
WpActionLinkContent Guidelines