Memuda(r)kan (still process)

Memuda(r)kan (still process)

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Sun, Nov 5, 2017
WpInfo
Non-Fiction
Kejadian memilukan itu membuat Billa tak mudah menyerah. Dia tidak merasa malu sebab perasaan mengalahkan logikanya. Segala rasa yang ada pada seorang gadis 18 tahun memang sudah menjadi senjata ampuhnya untuk menjadi berani karena Cinta, katanya. "Sudahlah, Bil. Aku gak mau kita lanjut tapi seperti ini terus.", Rey menolak dengan santai. Billa mulai memerah. Balada anak remaja selalu memiliki kejutan-kejutan, keberanian yang tak di sangka-sangka, dan tak ada rasa malu. Mereka lupa kalau pun punya. Perjalanannya senantiasa terekam dengan baik. Memiliki memoar indah dari setiap kejadian. Bermakna baik sebagai hikmah untuk di renungkan. Kutuliskan secuil kisah dari beberapa kepingan cerita. Aku menghabiskan sepanjang hidupku untuk menangkap momen penting saja. Tetapi nyatanya, setiap momen di dalam kehidupan adalah momen penting. Apapun. Tidak kulewatkan satupun untuk di biarkan menghilang. Tiap perjalanan adalah sambung menyambung. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Di setiap langkah, angin singgah, kemudian seenaknya saja pergi.
All Rights Reserved
#534
shs
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • dear happiness
  • RANNA
  • Inersia
  • Sugar Daddy18+ END [✓]
  • Destroyed (BxB) 2
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • COMPLICATED
  • Amami
  • THE CHAIN OF LONGLAST LOVE ✅

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines