Mikir Sebelum Nyinyir

Mikir Sebelum Nyinyir

  • WpView
    Reads 1,012
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 21, 2017
Era terbukanya media sosial menjadi jalan bagi banyak orang untuk membentuk dan mengekpresikan diri. Sayangnya, keterbukaan ini menjadi sebuah jurang yang dapat menjatuhkan siapapun dan kapanpun. Fitnah dan tuduhan bisa mengintai setiap orang, tak terkecuali mereka yang dianggap suci. Selain fitnah dan tuduhan, muncul pula ragam salah kaprah pemikiran yang menjurus kepada sikap 'Asal Ngomong Doang'. Tanpa dasar dan bukti yang kuat, sebuah perkataan hanya berujung menjadi produk bernama 'Nyinyir'. Ibarat menggoreng telur, sebatas digoreng saja tanpa adanya bawang putih dan garam, Buku ini mengajak kamu untuk berdiam sebentar dan berfikir tentang banyak salah kaprah pemikiran pada masyarakat umum yang sering terjadi dan bagaimana seharusnya itu disikapi. Mari merubah lingkungan, dari pada terlambat.
All Rights Reserved
#21
bacaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BERAGAMA SEPERTI POLITISI
  • Kumpulan Dongeng Fantasi, Abadi Sepanjang Masa
  • Jendela Duniaku
  • Dongeng Tengah Malam
  • [Non Fiction] Menjadi Lebih Baik
  • Catatan Hijrah
  • Langit Bisu Bumi Bertanya
  • Namamu dalam sujudku
  • Misteri KKN Di Desa Penari
  • KENAPA HARUS AKU?

Beragama Seperti Politisi (Karena surga juga butuh strategi) Politisi itu pintar cari simpati. Mereka tahu cara ngomong, tahu kapan harus turun ke jalan, dan ngerti banget gimana bikin orang percaya. Nah, coba bayangin kalau orang beragama juga kayak gitu. Apa jadinya kalau cara kita nyebarin nilai-nilai Islam secerdas kampanye pemilu? Apa jadinya kalau umat Islam nggak cuma sibuk nasihatin, tapi juga bisa menggugah, merangkul, dan bikin orang betah? Tulisan ini ngebahas agama dari sudut yang nggak biasa-sederhana, tapi nendang. Isinya nggak akan ngajarin kamu jadi politisi, tapi ngajarin kamu gimana caranya jadi Muslim yang lebih strategis, komunikatif, dan relevan di tengah dunia yang makin ribet. Pas buat kamu yang: Capek lihat cara dakwah yang toxic. Pengen beragama tanpa drama. Suka mikir dan nggak mau ikut-ikutan doang. Dengan gaya bahasa santai, analogi segar, dan penuh insight tajam, buku ini akan bikin kamu mikir ulang: jangan-jangan selama ini kita kurang luwes dalam beragama. Dan bisa jadi... kita cuma kalah strategi. Politisi bisa bikin perubahan lewat kata-kata. Muslim juga bisa. Bedanya, kita bawa pesan dari langit.

More details
WpActionLinkContent Guidelines