That's My Girl

That's My Girl

  • WpView
    Reads 279,565
  • WpVote
    Votes 3,741
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Thu, Jun 4, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
''Bisakah kau melepaskanku? Aku ingin pulang." Anastasia menatap Pria dihadapannya. Sembari menunggu cengkeraman pria ini terlepas dari lengannya. Gadis itu terus menundukkan kepalanya. "Pulang? Bukankah ibumu sudah menyerahkan dirimu?" Anastasia terbelalak, ia segera mendongak menatap Pria itu. ''Ap-apa maksudmu?" Otak gadis itu berpikir cepat. Mengingat sosok yang ia lihat tadi malam, dan setelahnya gadis itu tertegun. Lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ibuku tidak seperti itu. Aku bukan barang," bantah gadis itu lantang. Tyler mengernyitkan alisnya. "Tapi kenyataannya Tempatmu disini, Nona!" "Tidak. Aku mohon, lepaskan aku. Aku harus pergi!" Anastasia memohon pada Tyler sambil berusaha menarik lengannya dari cengkraman tangan Pria itu. "Tidak." Anastasia terkejut mendengar jawaban Pria dihadapannya ini. Gadis itu semakin memberontak dari genggaman Pria itu. tapi seakan tenaganya tak berarti apa-apa bagi Tyler. Pria itu sendiri yang sudah mulai merasa kesal, menarik tangan mungil digenggamannya. Membuat tubuh gadis itu mencondong kearahnya. "Dengar, mulai sekarang Kau milikku Nona!"
All Rights Reserved
#101
tears
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Althalan Vs Amore
  • Desire behind Closed Eyes
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Sweet Home || HoonSuk
  • Ciuman Curian dari CEO!
  • Wrong Love [On Going]
  • BITCH OF LOVE🔞 ( PoohPavel Short Story ) END
  • Afterhours🔞
  • Mysterious Girl

Jangan lupa follow Ig: ZinniaPeruviana Di hadapan Althalan, seorang wanita berlutut, menggenggam tangannya yang dingin. Amore. Wajahnya pucat, air matanya bercampur dengan rintik hujan yang membasahi pipinya. Perutnya yang membesar menandakan kehidupan yang sedang ia lindungi-anak kembar yang masih belum lahir, darah daging Althalan. "Kamu nggak boleh mati, Alva...!" "Kamu janji bakal ngebesarin mereka bareng aku, kan?! Kamu nggak boleh pergi sekarang!" Althalan terkekeh lemah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tapi sorot matanya masih samapenuh dominasi, penuh kepastian. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena ketakutan. "Dengerin aku, Lova..." "Anak kita... mereka akan lahir membawa darah aku... Mereka bakal lebih kuat, lebih kejam... dunia ini nggak bakal bisa ngelawan mereka." Amore menggeleng, air matanya jatuh lebih deras. "Jangan ngomong gitu, dasar brengsek! Mereka butuh kamu! Aku butuh kamu!" "Amore" Suaranya kini terdengar lebih dalam, hampir seperti bisikan maut. "Jangan takut. Aku udah senang karena mereka sebentar lagi akan lahir, mereka warisan yang jauh lebih besar dari apapun, mereka nggak akan tumbuh sebagai manusia biasa." "Kita akan terus bersama, aku akan selalu berada di sampingmu sayang, jangan menangis seperti itu, lihat mereka tidak senang melihat mommynya menangis! Mereka adalah dua pilar kehidupan, Walaupun aku sudah tidak ada didunia ini aku berjanji, akan terus melihatmu bahagia bersama kedua anak kita sayang!" Hujan terus turun, membasahi wajahnya yang semakin pucat. Aura iblisnya berputar semakin liar, sebelum akhirnya menghilang bersama helaan napas terakhirnya. Althalan, akhirnya berhenti bernapas. Namun, di balik keheningan yang menyakitkan, dia bisa merasakan sesuatu yang lain dua kehidupan kecil yang sedang berkembang di dalam dirinya. Anak-anak mereka. Dengan mata yang masih dipenuhi air mata, Amore menunduk, bibirnya bergetar. "Mereka akan lebih kuat dariku..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines