IZINKAN AKU BERTEMU TUHAN

IZINKAN AKU BERTEMU TUHAN

  • WpView
    Reads 104
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing1h 4m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 27, 2017
Aku memang tidak menginginkan kemiskinan maka dari itu aku nekad mencuri sebuah warung milik salah satu warga. Tapi, sialnya aku diciduk oleh kakak sendiri. Aku tahu Ibuku sangat kecewa dengan tingkah lakuku. Aku mencoba bangkit dan berazam untuk hijrah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Ternyata menjadi pribadi yang lebih baik itu tidak mudah dan banyak yang harus aku lalui terutama wanita.
All Rights Reserved
#449
islam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mutowifku Tersayang
  • PENULIS TAKDIR TERBAIK
  • SIAPA? |✓|
  • senyuman Terakhir [ C ]
  • TEARSBREAKER
  • JAM PASIR
  • 𝐌𝐫𝐬.𝐑𝐢𝐲𝐲𝐚�𝐝𝐡 𝐙𝐚𝐲𝐲𝐡𝐝𝐢𝐭𝐡 : 𝐇𝐢𝐬 𝐋𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐖𝐢𝐟𝐞 [✓]
  • 𝐑𝐚𝐡𝐬𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐑𝐚𝐲𝐪𝐚𝐥 ∆ 𝐂
  • Dua Helai Daun

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines