Story cover for Kill the lights by ErizaRachel
Kill the lights
  • WpView
    LECTURES 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 2
  • WpView
    LECTURES 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 2
En cours d'écriture, Publié initialement août 31, 2017
Dia duduk sendirian di lorong kecil itu ... saat hujan, saat panas, bahkan saat salju turun. 

Mungkin tidak ada yang mengenalnya, tidak pula menyadari keberadaannya ... tapi kelak, mereka harus mengangkat kepala untuk bisa melihatnya.

Meskipun tubuhnya gemetaran, bibirnya membeku, kakinya penuh luka ... dalam bola matanya itu, tersimpan tekad kuat untuk mewujudkan mimpi besarnya.

Dia adalah Effierre ... seorang anak lelaki dengan 90% talenta, 90% kerja keras.
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Kill the lights à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Liberosis, écrit par syahdakhairunnisa0
29 chapitres En cours d'écriture
"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.
TIME will TELL {On Going}, écrit par bLuE096r
15 chapitres En cours d'écriture
"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡
Ashita 2  :   your Memory Of Darkness , écrit par hasanalaili
60 chapitres Terminé
Pada suatu hari terdengar langkah kaki kecil yang berjalan di tengah hutan seorang diri di tengah malam Tak ada yang menemani kecuali sosok yang berada di belakang nya untuk menangkapnya hidup - hidup Hingga dia menemukan sebuah anak terbuang yang di biaskan mati bergitu saja Ikut berjalan bersama nya melewati hutan itu yang tak tahu apakah dia manusia atau bukan Itulah lirik sebuah lagu yang menjadi kunci dari sebuah misteri dari masa lalu yang hilang ( Kakoto Ashita ) Hampir setahun sudah berlalu sejak kejadian yang membuat Ashita masih terus mencari jawabannya atas segala bertanya tentang siapa dirinya yang kini berkerja sebagai guru magang yang telah menjalani kehidupan dengan tenang dan bahagia Namun dia menyadari jika kehidupan tenangnya Telah terusik oleh kenangan masa lalu nya yang kini menerro dirinya dan keluarga kecilnya Dengan kepindahan nya ke sebuah kabupaten yang terpinggirkan yang ternyata menyimpan serangkaian kengerian yang bermula dari sebuah desa kecil setelah mendapat informasi jika desa itu merupakan desa di mana dirinya tinggal sewaktu kecil nya dulu untuk berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan desa itu setelah kepergiannya malah membuatnya mengalami serakaian mimpi terburuk nya Terlebih lagi dia di repotkan oleh keluarga besarnya yang berebut hak asuh atas dirinya dengan sejumlah kegilaan dan beberapa anak - anak yang mengalami berbagai masalah yang pelik Dan munculan seseorang yang mengaku sebagai atasan mendiang ayahnya untuk meminta dirinya kembali menjadi tentara bayaran untuk menyelidiki kasus yang pernah di selidiki oleh ayahnya Inilah petualangan seorang anak untuk mencari jati diri nya sendiri di kala dunia yang penuh kekejaman dan kekejian
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 9
Liberosis cover
TIME will TELL {On Going} cover
Hope's in the Snow  cover
Ashita 2  :   your Memory Of Darkness  cover
Midwest Princess cover
All The Memories {Elemental Boboiboy} [SLOW UPDATE] cover
GOLD cover
My Beautiful Classmate cover
[BL] Tupai itu Milikku! (SunSun)✓ cover

Liberosis

29 chapitres En cours d'écriture

"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.