Bagi seorang Adwa, menikah adalah sesuatu yang sangat sakral, sekali seumur hidupnya dengan yang sangat mencintai dan dicintai olehnya, di usianya yang sudah 25 tahun ini, Adwa sama sekali belum membawa satu lelaki pun untuk di kenalkan kepada eyang nya, bagi Adwa sendiri, yang terpenting adalah karir dan eyang nya. sampai pertemuan pertamanya dengan seorang lelaki bernama Ilham, lelaki yang di jodohkan dengannya, Ilham di usianya yang cukup matang membuat Ilham menyadari kalau dia harus segera menikah, jadi untuk memudahkan segalanya Ilham menerima perjodohan itu, dan Ilham sendirilah yang menawari untuk hubungan yang serius pada Adwa, pada awalnya Adwa terlihat sanksi, tapi mengingat bagaimana keseeriusan dari sikap lelaki itu, akhirnya Adwa mau menikah dengannya, ternyata pernikahan mereka tidak seindah seperti sebuah kisah novel yang ada di toko buku, lelaki itu mungkin baik, tanggung jawab dan soleh seperti yang Adwa inginkan, tapi, satu hal, satu hal rahasia tentang hatinya, kalau ternyata Ilham amsih menyimpan nama seseorang di hatinya, Sandra, cintanya yang telah menghilang namun masih terkenang di hatinya, sanggupkah Adwa mengetuk pintu hati Ilham, sementara lelaki itu sudah menutupinya rapat-rapat.
(SUDAH DITERBITKAN)
"Ibra aku punya syarat kalau kamu mau menikah denganku. Aku nggak mau hamil, aku masih mau melanjutkan karierku dulu, karena saat ini waktu yang tepat untuk berjuang mengejar impianku. Tapi, jangan kecewa dulu! Aku punya solusi yang mungkin bisa kamu pertimbangkan. Kamu diharuskan menikah secepatnya karena keluargamu menginginkan keturunan darimu, kan? Aku mempersilakan kamu memiliki buah hati dengan wanita lain. Dengan satu syarat, aku yang memilihkan wanita itu. Dan kabar gembiranya lagi, aku sudah mempunyai calon untukmu. Dia sepupuku, wajahnya mirip denganku."
"Lalu ... kamu mau dia yang hamil seolah anak itu hasil buah cinta kita?"
"Iya, bisa dibilang seperti itu. Kamu tenang saja, sampai dia hamil aku akan berada di luar negeri menyelesaikan pekerjaanku. Setelah dia melahirkan, maka perjanjian kita dengannya selesai."
"Kalian gila! Lalu, selama dia hamil dia akan ada di mana? Kamu tidak akan meninggalkannya sendirian, kan? Demi Tuhan, Ris, ada anakku di dalam sana nantinya."
"Dia akan ada di apartemenku. Kamu tenang saja, dia wanita yang mandiri. Kalau kamu mau mengajaknya tinggal di rumahmu aku tidak masalah selama tidak ketahuan orang."
"Baiklah, asal kamu mau menikah denganku."
"Tapi, satu hal permintaannya yang harus kita turuti."
"Ya?"
"Dia mau ... kamu juga menikahinya sebagai istri keduamu."
"Apa?"