Story cover for Stuck or Move? by shalmanong
Stuck or Move?
  • WpView
    Reads 914
  • WpVote
    Votes 283
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 914
  • WpVote
    Votes 283
  • WpPart
    Parts 4
Complete, First published Sep 02, 2017
[Slow Update]

Ketika sebuah hati tertutup dengan sendirinya. 
Relung hati yang dulunya di penuhi dengan seseorang kini, terasa samar. 

Hati ini terkunci rapat-rapat. Sesuatu yang ingin masuk pun tidak di beri jalan hanya untuk sekadar mengintip. 
Hati yang pernah bersinar terang kini, terluka kembali. 

Memar sudah menyebar di ruangan ini. Walaupun luka ini telah di lapisi oleh dinding ketegaran. Tetap saja perihnya masih sangat terasa. 

Hati yang telah menitipkan penuh kepercayaan, Justru di kecewakan.

Seiring berjalannya sang waktu ruangan ini makin tidak karuan, tidak pula berwarna, yang ada hanyalah kebekuan. 

Seperti perisai, Kekosongan ini menjadi tameng untuk hati yang terluka.

~~~ 

Copyright © 2017 by shalmanong
All Rights Reserved
Sign up to add Stuck or Move? to your library and receive updates
or
#7meet
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Elegi Rasa : Pergi cover
Maaf, Aku Terlambat END✅ cover
CLOSER cover
Aku Takut Dicintai  cover
Disaster In Feelings cover
DIA (Completed) cover
SUNSHINE cover
Stupid Love [END] cover
As Time Allows cover
FRIEND ZONK cover

Elegi Rasa : Pergi

30 parts Complete

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.