Coffe Latte

Coffe Latte

  • WpView
    Reads 4,506
  • WpVote
    Votes 210
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Nov 7, 202044m
"Kakaknya mau coba coffe latte nggak, biar nggak ngantuk" wajahnya sekarang berjarak kurang dari 30 centi dariku. "Mana?" Tanpa permisi dia menarik leherku dan menciumku, menyuruhku merasakan coffe latte yang barusan diminum olehnya. Sialan. Kudorong dirinya dan berusaha menjauh darinya. "Ish....kamu ya..." antara shock, kaget atau marah. Dia pria pertama yang merebut ciumanku yang kujaga selama ini demi calon suamiku nanti. Dan dia merebutnya tanpa permisi. "Aku suka sama kakak. Makanya aku berani cium kakak" ujarnya tanpa dosa. Untung perpustakaan tidak ada pengunjung dan di luar gedung pun tidak ada orang lewat. "Mencium seseorang itu harus minta ijin dulu. Lagian kamu itu masih kecil, umur kita beda jauh dan lagi kamu masih sekolah dan..." "Aku nggak peduli apa yang dipikirkan orang lain. Kita menyukai siapa kan hak kita. Kalau aku suka ya aku bilang suka kalau enggak ya aku bilang enggak. Emang kakak nggak suka sama aku?" ucapnya memotong kata-kataku yang ingin menjelaskan kalau apa yang dirasakannya ini salah dan tak mungkin hubungan seperti ini berhasil.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TAKDIR TERINDAH
  • Jadian  Yuuk
  • Sampai di titik, "Hallo" lagi
  • Lelaki Itu Takdirku
  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • Mrs. Ex-Girlfriend
  • Di sebalik layar
  • Dari Benci Jatuh Ke Sayang [Completed]

Under Tengku Series 𝐈𝐈 SPIN-OFF DIA BIDADARIKU π“π„ππ†πŠπ” ππ€π˜π‘π€π„π‹ 𝐀𝐑𝐃𝐄𝐍 - Hampir lima tahun menetap di Australia disebabkan pengajiannya di peringkat PhD, baru hari pertama menjejakkan kaki ke negara asalnya, dia sudah ditimpa kemalangan yang tanpa diminta terjadi. "Mata bukan main cantik, tapi sayang letak kat kepala lutut. Aku yang besar gedabak ni tak nampak?" Hambur lelaki itu kasar. ππ”π“π„π‘πˆ 𝐀𝐑𝐃𝐄𝐀𝐍𝐍𝐀 - Seorang gadis berkacukan Itali itu sememangnya menjadi sasaran utama buat para lelaki yang menginginkan teman wanita kerana rupa parasnya. Lelaki umpama kacang ditangannya sehingga takdir mempertemukan dia dengan seorang jejaka bermata hazel yang sukar untuk didekati. "Heyy! Awak yang jalan tak tengok belakang depan! Lain kali kalau dah tahu diri tu mengalahkan gajah, tengoklah kanan kiri!" ππ”π“π„π‘πˆ 𝐀𝐑𝐃𝐄𝐀𝐍𝐍𝐀. Pertemuan mereka singkat, tetapi memori itu yang berharga, apa yang berlaku harini takkan mungkin sama dengan hari esok. Dan disebabkan itu mereka berdua menikmati waktu yang ada untuk bergaduh dan mencipta memori indah. Untuk menghalalkan mudah, tetapi untuk mengecapi bahagia itu sukar tatkala si ibu tiri mula mengambil bahagian dalam kisah mereka. Bahagia yang dulunya mereka rasai perlahan - lahan ditarik sedikit demi sedikit tanpa sempat mereka mengucapkan selamat tinggal. "Kalau itu yang Dea nak abang tak kisah, tapi jangan datang semula pada abang." π“π„ππ†πŠπ” ππ€π˜π‘π€π„π‹ 𝐀𝐑𝐃𝐄𝐍. Mampukah mereka mengenal erti bahagia itu sekali lagi? Atau bahagia yang mereka kecapi itu hanyalah sementara? "Bahagia bukan tentang bersama, tetapi tentang rasa. Kalau bersama tapi tak bahagia tiada guna juga." ππ”π“π„π‘πˆ 𝐀𝐑𝐃𝐄𝐀𝐍𝐍𝐀.

More details
WpActionLinkContent Guidelines