Titik Hitam

Titik Hitam

  • WpView
    Reads 751
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 53
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 10, 2020
Terlihat ramai tapi sunyi. Bercahaya tapi gelap. Penuh warna tapi semu. Apa ini yang dinamakan kehidupan? Tak mengerti walau berada didalamnya. Tak cukup bahagia walau bunga dan sang surya ada. Serumit itukah kisahku? mengapa sang waktu tak berhenti walau sering bertemu titik hitam?
All Rights Reserved
#44
kebingungan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear Fenly || Un1ty
  • Dari SENJA untuk PURNAMA
  • Senja merindu fajar
  • Titik Yang Benar
  • Dia Semesta
  • alxendric and his wounds
  • NOESIS [END]
  • Why?? Kumpulan Cerpen✔
  • PLEASE, REMEMBER ME.

Sama halnya seperti semburat warna pelangi Gugusan bintang di langit dan aurora Borealis Beberapa entitas indah memang diciptakan untuk dipandang Bukan untuk diraih apalagi dimiliki Bagaikan mengharap pakistan bersatu dengan India Jangankan kasih sayangnya, perhatian darinya saja tak dapat ku miliki Ini bukan bagaimana aku mengisahkan cerita cinta dalam hidupku, kisah ini tak berisi bagaimana aku bertemu gadis cantik karna tak sengaja menabraknya atau tak sengaja satu kelas dengan dia, kemudian kami saling jatuh cinta dan bahagia. Tidak ini jauh dari kisah seperti itu. Aku ingin menceritakan kebohongan mamaku yang mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Aku ingin menceritakan kebohongan mama yang katanya akan menemaniku selamanya dan aku juga ingin menceritakan kebohongan mama tentang bagaimana indahnya memiliki saudara. Aku tak mengerti bagaimana bisa wanita yang paling ku percaya tega membohongiku, aku masih tak mengerti bagaimana Tuhan menuliskan kisahku ke arah mana, ia memberiku air mata tapi sepertinya lupa menuliskan kata bahagia, setelah semua kebohongan itu ku terima, setalah takdir itu Tuhan mainkan kehidupanku banyak berubah. Kepedihan dan penderitaan mulai tertarik untuk singgah. Meninggalkan rumah, dan tinggal dengan manusia-manusia random akan menyenangkan pikirku, hingga aku lupa jika salah satu dari mereka adalah sumber luka yang nyata. Sia-sia aku lari ternyata luka itu turut mengikuti, ingin mencoba membenci tapi aku tak akan pernah sanggup perangi. Hingga kini luka itu abadi dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines