Alone
  • WpView
    Reads 366
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 7, 2017
Hampir genap tiga puluh tahun usiaku. Teman-teman sebaya sudah banyak yang menemukan muara cintanya, sedangkan aku masih begini saja; terbelenggu masa lalu. Tak usah dikasihani, begini-begini aku memiliki teman kencan yang sabarnya seluas samudera; memaklumi kondisiku dengan lapangnya. Seperti sepasang muda-mudi, bisa dikatakan akupun berpacaran. Malam minggu saatnya wakuncar terbaik, tahu apa wakuncar? Waktu kunjung pacar, istilah lagu dangdut yang tersohor pada masanya. Terkadang hanya bertandang di teras rumah, sesekali menonton ke bioskop, acapkali makan malam di luar sambil mendengar live music biar asyik. Oh ya, belum kuberitahu ya, enaknya pacarku ini, kapan saja mau kupeluk. Seperti bertemu ganja, aku candu. Tahun depan akan kupersunting saja nampaknya, biar kumiliki seutuhnya. Seru juga membayangkan berdiri di pelaminan kemudian menyalami tamu-tamu sambil memperkenalkannya, “Ini istriku, namanya Kesepian”. . .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Fall For Firefighter
  • About me (aku bocah alay)
  • GALEN (SELESAI)
  • Pretty Careless
  • Rendra & Lila [END]
  • Angel To Raya (END)
  • One More Time  (GOOGLE PLAY BOOK & KBM APP)
  • My Diary
  • He Is My Husband (Selesai season 01)
  • Me and My World

"Ooh namanya septian toh. pantes orangnya cakep, kayak namanya." Bu Ani manggut-manggut. Pina menutup telinganya saat mendengar celotehan tetangga mengenai pemadam kebakaran yang baru-baru ini ditugaskan di kampung Mangga Muda, kampungnya. Penugasan ini dilakukan demi keamanan masyarakat kampung setelah mengalami kebakaran lima rumah beberapa hari yang lalu. Tapi penugasan ini membawa kehebohan tersendiri apalagi dikalangan emak-emak rumpi pas beli sayur pagi. "He euh loh jeng, saya liat kemarin si Septian itu lagi jemur baju. Uuh ototnya itu loh. Pengen dipegang-pegang." Tambah Jeng Ima memanas-manasi topik dan tak lupa gerakan jarinya seolah-olah sedang meraba otot Septian. "Bener tuh. Nanti kita kesana ya. Pura-pura lewat padahal mau cuci mata. Hahahai." Kata Bu Wirda lalu tertawa genit. Mang sayur juga ikut tertawa. Lumayan, dagangannya juga ramai yang beli kalau ada gosip hangat dikalangan emak-emak rumpi ini. Tapi tidak dengan Pina. Telinganya mulai panas sejak tadi. Apa gunanya membicarakan seorang laki-laki sedangkan dirumah mereka sudah punya laki-laki sendiri? Pikir Pina kalut. Memangnya apa yang hebat dari si pemadam itu. Kulit sawo matang begitu. Beda jauh dengan oppa-oppa yang selalu ia pandang dilayar hapenya. Pina berjanji tidak akan meniru kelakuan emak-emak itu dan tidak akan pernah tertarik dengan yang namanya Septian. Tidak akan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines