Pelangi Senja

Pelangi Senja

  • WpView
    Reads 163
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 12, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
TIDAK PEDULI! mungkin itu kata yang tepat untuk paris saat ini. Bagaimanapun perempuan sangat ingin diperdulikan, diberi kasih sayang, diperlakukan selanyaknya dia itu penting, diberi perhatian khusus, dan perempuan juga saat senang jika pacarnya selalu memberi nya kabar tentang apa yang dia lakukan. Namun apa yang didapat pelangi Dia justru sebaliknya. Dicuekan, Tidak diperdulikan, dihianati, bahkan dia tidak mendapat jatah perhatian. Dan entah apa yang membuatnya betah bertahan dengan paris?Entahlah meski sering disakiti pelangi selalu bisa menguatkan dengan memaafkannya walau kadang luka selalu melemahkan nya. Dia hanya bisa Merindu bersama hujan dimalam hari, dikamarnya yang sunyi dan hanya ditemani perasaan yang semakin hari semakin membuatnya bertanya. Apakah paris masih mencintainya?Atau ah entahlah! Pelangi selalu menunggu kabar dari paris yang Sangat sulit dia dapatkan setiap harinya. Pelangi selalu memantau paris melalui media sosialnya, Bagaimana tidak sakit jika Pesan atau chatt yang pelangi kirim tidak direspon sama sekali atau hanya dibaca saja dan kalaupun dibalas hanya seperlunya saja padahal dia sedang ONLINE itupun pelangi harus menunggu waktu kira-kira 20-30 menit untuk mendapat jawaban. Bagaimana menurut kalian apakah pantas pelangi mempertahankan paris?
All Rights Reserved
#304
rindu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • untuk damai
  • Cinta dalam Diam(End)
  • Tertulis Dalam Doa
  • Lovakarta
  • That Woman (Ali-Prilly cast) (Completed)
  • 31 Months for You (Revisi)
  • False Hopes
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Mahligai Sunyi

Di antara lorong-lorong masa tua yang sunyi, di sebuah kamar bernomor tujuh di kota kecil Salatiga yang dingin dan penuh embun, dua lelaki tua duduk bersebelahan. Satu terbaring dengan mata nyaris kosong, satunya lagi menyisir rambut pasangannya dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan. Suara dari walkman tua mengalun pelan-lagu lawas yang menyimpan lebih dari sekadar melodi: ia menyimpan hidup. Begitulah kisah ini dimulai. Dengan sebuah lagu. Dengan sepotong waktu yang tidak bisa diulang, tapi bisa diputar ulang. kembali ke tahun 2000, saat Damai, seorang remaja Jogja yang spontan dan hangat namun peka terhadap detail-detail kecil dunia, bertemu dengan Alam -anak Jakarta yang dikirim ibunya untuk 'beristirahat dari kebisingan'. Alam membawa kegelisahan seorang anak yang belajar menelan sunyi. Jogja menjadi panggung bagi pertemuan mereka, tapi bukan sekadar latar: kota ini adalah karakter ketiga dalam hubungan mereka. menjadi ruang di mana Alam dan Damai berjalan bersama. Membicarakan hal-hal kecil. Makan roti isi sambil duduk di stadion kosong. Mandi di Kali Winongo, ciprat-cipratan seperti bocah. Tidak ada yang berbeda . Yang ada hanya kehangatan yang tumbuh perlahan-dan itu cukup. Bahkan mungkin lebih dari cukup. Seiring tahun-tahun berlalu, mereka tumbuh. Dunia berubah. tubuh Alam mulai memudar. Tapi tidak kenangan mereka. Setiap sore, Damai memutar lagu dari kaset mereka yang lusuh dan di sinilah pembaca akan memahami: bahwa surga, seperti yang mereka bicarakan di usia lima belas di stadion tua, bukanlah tempat. Surga adalah momen. Adalah keberadaan yang lengkap, bukan sempurna. Adalah hari-hari ketika kamu merasa cukup, tanpa perlu memiliki segalanya. untuk damai adalah cerita tentang rumah yang bukan hanya tembok dan atap, tapi mata seseorang yang mengenal kita tanpa harus dijelaskan. kisah yang akan membuatmu berpikir, walau hanya sekali dalam hidupmu: kalau ini bukan surga, aku tidak tahu apa lagi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines