Kapan Aku Pernah Berhenti [completed]

Kapan Aku Pernah Berhenti [completed]

  • WpView
    Membaca 93,610
  • WpVote
    Vote 6,134
  • WpPart
    Bab 27
WpMetadataReadLengkap Sab, Mei 19, 2018
WpInfo
Fiksi
Romansa
Itulah jawabku saat kau bertanya, "Apa kau mau mencintaiku lagi?". Meskipun telah berdebu kenanganku akanmu, meskipun telah berlalu kedipan hidupku akanmu, aku tidak pernah berhenti. Seperti kata Kahlil Gibran Si Begawan Kata-kata, kekasih tidak begitu saja bertemu, karena selama ini mereka ada di diri mereka masing-masing. . . . . . Cover by : @Nmvord
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#13
poets
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Memories in Moon
  • ∞ ∞ ∞ Bukan Cinta Biasa ∞ ∞ ∞
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Ustadz Is My Husband
  • I'm promise with you
  • Setelah Langit Berbisik (END)
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan