Kenangan Aluna

Kenangan Aluna

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 17, 2020
Ketika endapan perasaan itu mulai terkikis rapi. Menenggelamkan angan yang tak bisa dihampiri. Luna hanya ingin angga. Dan angga tidak pernah tau akan hal itu. Mereka sama sama mempunyai perasaan yang tak bisa dihindari. Mereka sama sama punya ego yang sangat menyusahkan. Dan ketika semuanya pergi. Hanya rasa penasaran di hati angga Lalu ketika semuanya ia tinggalkan. Hanya rasa sakit dan tangis yang tak bisa luna hindari. Semuanya tentang rasa, asa, angan, dan rindu yang tiada habisnya. Dan satu hal yang luna pelajari dari kisah ini. Sebanyak apapun luna membenci cinta. Ia akan tetap hadir.di sgala suasana. Memberikan rasa lembut yang tak terelakkan. Namun terkadang. Karena cinta, luna menangis. Menyesali kepergiannya. Dengan rindu yang membuncah. Sekali lagi. luna harus membenci cinta.
All Rights Reserved
#979
angkasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rain Sound
  • K I N G [Completed]
  • Anggara ✔
  • BROKEN HEART [END]
  • <3 Sepanjang Hidup <3
  • Narasi patah hati
  • Please, Love Me (END)
  • Rainangkasa #2 [END]
  • ALVANSA [Completed]

(Telah Diterbitkan) Aku bingung kenapa banyak orang yang menyukai hujan. Saat kutanya, sebagian dari mereka mengatakan bahwa hujan itu romantis, beberapa berkata bahwa hujan itu menyejukkan, yang lainnya mengungkapkan bahwa hujan membawa ketenangan. Ada juga yang bilang bahwa hujan membawa keluar semua kenangan yang lama tersimpan rapi di sudut hati setiap orang. Kau juga suka hujan. Dan alasanmu adalah favoritku. Kau bilang hujan adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Tetes-tetes yang turun membawa pesan dari langit dan setiap butirnya menyampaikan pesan yang menunggu untuk diinterpretasikan oleh setiap manusia. Saat hujan turun, kau selalu mengamatinya. Berusaha memaknai suara yang ditimbulkan oleh berjuta tetes air yang menghantam bumi. Aku sedikit demi sedikit mulai memahami jalan pikiranmu. Juga mulai memaknai bunyi hujan yang turun. Tes. Tes. Tes. Dan karena kepahamanku akan jalan pikiranmu itulah-- Aku membenci hujan. Copyright © 2014 by vachaa

More details
WpActionLinkContent Guidelines