Perempuan dan Perasaannya

Perempuan dan Perasaannya

  • WpView
    Reads 3,041
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 39
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 5, 2018
Hai guys, halaman di cerita ini telah dipangkas dan disembunyikan sebagiannya. Buku ini sedang dalam proses cetak dan telah memiliki ISBN resmi dari perpusnas. Jika berminat untuk memiliki bukunya silakan kontak saya di 082310979519. Buku ini berisi puisi dan prosa tentang bagaimana seorang perempuan dan perasaannya. Tentang perempuan yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya lewat lisan. Maka ia sampaikan lewat tulisan. Selamat membaca. Silakan aktifkan mode On-(Baper)ing anda.
All Rights Reserved
#107
picisan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • You're Here, But Not For Me
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • KUMPULAN PUISI
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Lembut Seperti Doa

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines