Cinta Sepertiga Malam

Cinta Sepertiga Malam

  • WpView
    Reads 32,110
  • WpVote
    Votes 1,070
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadComplete Fri, Jun 7, 2019
Pedih memang ketika hati tak mampu menahan tekanan dan gejolak kekecewaan, kemarahan. Trauma bisa terjadi kapanpun dan pada siapapun termasuk Nadya. Wanita berhijab dengan senyum disertai lesung pipit yang semakin mempermanis senyumnya harus berani menahan amarah dan rasa kecewa yang bersarang dihatinya. Berkali-kali jatuh lalu bangkit. Sampai akhirnya suatu kesalahan besar kembali Nadya lakukan. "Berharap" kepada manusia yang bahkan jauh dari kata sempurna.
Public Domain
#163
kembali
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
  • CAN I AM ?
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • Di antara Dua Hati (Sudah Terbit)✅
  • Menyapa Luka di Awal Kisah
  • BULIR CINTA [END]
  • TOO LATE TO FORGIVE YOU | ✔ | FIN
  • Welcome My Happiness
  • Dalam Diamku Mengikhlaskanmu [ Sudah Terbit ]

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines