My Evil Hero

My Evil Hero

  • WpView
    Reads 700
  • WpVote
    Votes 47
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 7, 2017
Mentari pagi memancar tajam menembus tirai gordyn ku embun pagi menyapa dengan senyumnya... Nyanyian ayam jantan menggantikan alarm ku.. Hingga udara segar nan sejuk menemaniku di pagi itu... Seketika itu ku buka kelopak mata ku dengan perlahan... Menyambut sinar mentari yang memancar tajam.. Enggan bangkit dari kasur ku yang lembut..hingga membuatku tetap diam mematung di atas kasur ku...
All Rights Reserved
#205
30
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Little Monster - Completed
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • WELCOME [End]
  • Squirt JOB.
  • Heart & Vein END
  • Yes! Mr. Husband | TERBITβœ“
  • kisah horor: teror jam 12 malam
  • Ctrl+P My Heart

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines