We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
LARA
  • WpView
    Reads 370
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 12, 2017
WpInfo
Fiction
Fantasy
Namanya Lara, 16 tahun, kelas sebelas. Dia hanya seorang remaja biasa. Menyukai hal-hal yang biasa, tampangnyapun biasa-biasa saja. Dia suka kucing, suka menonton film dan drama, seperti remaja pada umumnya. Tapi ada satu rahasia Lara. Yang hanya dia seorang yang tahu. Lara selalu bermimpi. Mimpi aneh yang dikiranya hanya sebuah mimpi biasa. Mimpi-mimpi yang berubah menjadi nyata. Mimpi-mimpi yang membuatnya keluar dari zona amannya, melintasi ruang dan waktu, meninggalkan kehidupan yang biasa. Namanya Lara, 16 tahun, impiannya hanya satu : berhenti bermimpi.
All Rights Reserved
#33
sixteen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • MAS JI
  • Whisper of St. Eclaire
  • Garis Interaksi
  • Everytime You Fall Asleep [Completed]
  • T. World End [Terbit] (Versi Belum Revisi)
  • TRANSMIGRASI "DARAH PSICHO"
  • Impian Dalam Mimpi (Selesai)
  • BALANCE (Lengkap)
  • FARDAN MARGANTARA | BADBOY

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines