Luka Allea Tidak semua luka terlihat. Tidak semua jeritan butuh suara. Di dalam rumah itu, Allea tidak hidup-ia hanya bertahan. Hari-harinya penuh batasan, langkahnya terkekang, suaranya dipadamkan. Tapi ia tahu satu hal kalau ia bukan boneka yang bisa dikendalikan selamanya. Malam itu, ia keluar. Bukan untuk lari, bukan untuk menyerah. Hanya untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia masih bisa berdiri. Bahwa ia masih punya kendali atas dirinya sendiri. "Lea bukan tawanan. Lea hanya belum menemukan cara untuk menang." "Lea capek,kenapa harus seberat ini ujiannya Tuhan",... Tapi sampai kapan ia bisa bertahan dalam bayang-bayang luka yang terus menghantuinya? Karena tak semua rantai terbuat dari besi. Dan tak semua kebebasan berarti pergi. ---
More details